Laura Lesmana Wijaya
Pusat Bahasa Isyarat Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Launching A Digital Mental Health Dictionary in Indonesian Sign Language to Enhance Mental Health Information Accessibility for The Deaf Community Rivo Mario Warouw Lintuuran; Laura Lesmana Wijaya; Rodhiyah Rodhiyah; Adhesatya Ningsih Moodoeto
Devotion : Journal of Research and Community Service Vol. 7 No. 7 (2026): Devotion: Journal of Community Research
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/devotion.v7i7.25746

Abstract

Communication barriers remain a major obstacle to accessing mental health information and services among Deaf individuals. The limited availability of mental health terminology in Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) can hinder communication between Deaf individuals, sign language interpreters, and mental health professionals. This community service program aimed to introduce and disseminate a digital BISINDO mental health dictionary as an accessible resource for mental health education and communication. A one-day community engagement program was conducted involving Deaf community members, sign language interpreters, mental health professionals, students, and government representatives. The program included presentations on the need for a mental health dictionary, the dictionary development process incorporating 80 terminologies, demonstrations of BISINDO mental health terminology through YouTube videos, a talk show featuring a psychiatrist and a clinical psychologist from Mental Health Deaf Indonesia, and an interactive question-and-answer session. Program evaluation was based on participant feedback. Participants expressed positive responses regarding the relevance of the dictionary, the free accessibility of video-based content, and its potential use in mental health education and service settings. Feedback highlighted the importance of standardized mental health terminology in BISINDO and the value of collaboration between Deaf and hearing professionals. The digital BISINDO mental health dictionary shows promise as an accessible communication and educational resource that may support more inclusive mental health services for Deaf communities.
Menjembatani Komunitas Tuli dan Dengar melalui Pelatihan Komunitas untuk Kesehatan Mental: Penelitian Rivo Mario Warouw Lintuuran; Laura Lesmana Wijaya; Herbert Klein; Adhesatya Ningsih Moodoeto; Michelle Layanto
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5252

Abstract

Masalah kesehatan mental lebih banyak ditemukan pada komunitas Tuli dibandingkan populasi dengar, namun banyak kebutuhan belum terpenuhi akibat keterbatasan pengetahuan kesehatan mental di kalangan Tuli serta kurangnya pemahaman tentang bahasa dan budaya Tuli di kalangan profesional kesehatan mental dengar. Pelatihan bersama berbasis komunitas dilakukan di Jakarta, Indonesia, dengan melibatkan 18 pemimpin Tuli serta 13 ahli (psikolog dan psikiater) untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam menjawab kebutuhan kesehatan mental Tuli. Metode pelatihan menggunakan edukasi kesehatan dengan pre/post-test tentang pengetahuan dan refleksi diri, skrining kesehatan mental peserta Tuli, dan diskusi bersama bertema kesehatan mental. Data dikumpulkan melalui Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20), diskusi kelompok Tuli–dengar, serta tes pengetahuan dan refleksi diri pra dan pascapelatihan. Hasil menunjukkan bahwa 77% pemimpin Tuli terindikasi memiliki masalah kesehatan mental dan 32% melaporkan ide bunuh diri. Diskusi menyoroti tema antara lain kebutuhan mendesak akan layanan kesehatan mental yang aksesibel, program dukungan sebaya, dan kebijakan layanan kesehatan yang inklusif. Pascapelatihan, terdapat perbaikan rata-rata skor pengetahuan  (4% Tuli, 43,65% profesional), dan pemahaman atau refleksi diri antara lain pemimpin Tuli terhadap gejala kesehatan mental meningkat dari 65% menjadi 90%, sementara kesadaran profesional tentang pentingnya bahasa dan budaya Tuli dalam konsultasi meningkat dari 75% menjadi 92%. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan bersama berbasis komunitas bagi pemimpin Tuli dan profesional kesehatan mental dapat secara efektif meningkatkan pengetahuan kesehatan mental, pemahaman bersama, dan kolaborasi lintas komunitas. Pendekatan ini penting untuk memperkuat dukungan sebaya, meningkatkan akses layanan, serta mendorong kebijakan layanan kesehatan yang inklusif dan lebih responsif terhadap kebutuhan kesehatan mental komunitas Tuli.