Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif tingkat kesiapan SDN Antasan Kecil Timur 3 Banjarmasin dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, dengan fokus pada dimensi kompetensi pedagogik guru, ketersediaan sarana prasarana, serta efektivitas administrasi digital. Di tengah upaya pemulihan pembelajaran (learning recovery) pascapandemi, transisi kurikulum menjadi tantangan krusial bagi institusi pendidikan di daerah urban untuk memulihkan ketertinggalan pembelajaran (Learning loss) (Akrimna et al., 2024). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui studi kasus. Data diperoleh dari wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap Kepala Sekolah, Guru Kelas, dan Operator Sekolah sebagai informan kunci (Amanda et al., 2024). Teknik analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman (Safitri et al., 2025). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa SDN Antasan Kecil Timur 3 telah menunjukkan kesiapan strategis melalui penerapan pendekatan deep learning dan pembentukan Tim Pengembang Kurikulum (TPK) untuk merancang Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) (Akrimna et al., 2024). Namun, kendala substansial ditemukan pada keterbatasan sarana prasarana fisik, rendahnya literasi digital guru senior yang memicu kecemasan teknologi (techno-anxiety), serta hambatan teknis pada platform administrasi digital seperti Dapodik dan E-Rapor (Fauziyah et al., 2025; Triwahyuni et al., 2025). Upaya mitigasi dilakukan melalui optimalisasi Komunitas Belajar (Kombel) internal dan pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM) (Triwahyuni et al., 2025). Kesimpulannya, keberhasilan implementasi kurikulum memerlukan sinergi sistemik antara pengembangan SDM, pemenuhan sarana, dan stabilitas infrastruktur teknologi (Amanda et al., 2024).