Ahmad Habib Akramullah
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pemikiran Historiografi Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah dan Ralevansinya terhadap Historiografi Modern Nur Ahsan Syakur; Syamhari; Ahmad Habib Akramullah; Syahrul; Muh. Ainul Yaqin Azis
Al-Ubudiyah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol 7 No 2 (2026): Education and Islamic Studies
Publisher : STAI DDI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55623/au.v7i2.675

Abstract

Historiografi Islam klasik pada umumnya berkembang melalui tradisi periwayatan yang menekankan aspek transmisi berita dan penyusunan kronologi peristiwa sejarah. Meskipun memiliki kontribusi besar dalam pelestarian sejarah Islam, pendekatan tersebut sering kali belum disertai analisis kritis terhadap faktor-faktor sosial, ekonomi, politik, dan geografis yang melatarbelakangi suatu peristiwa sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembaruan historiografi yang ditawarkan Ibnu Khaldun melalui Muqaddimah serta menelaah relevansi pemikirannya terhadap perkembangan historiografi modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) melalui analisis terhadap sumber primer dan berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan historiografi Ibnu Khaldun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Khaldun melakukan transformasi penting dalam historiografi Islam dengan menempatkan sejarah sebagai disiplin ilmu yang harus dianalisis secara kritis melalui verifikasi sumber, pengujian rasional, dan analisis hubungan sebab-akibat. Selain itu, konsep asabiyyah dan umran yang dikembangkannya tidak hanya berfungsi sebagai teori sosial, tetapi juga sebagai instrumen metodologis dalam menjelaskan dinamika perubahan masyarakat dan perkembangan peradaban. Penelitian ini juga menemukan adanya kesesuaian metodologis antara pemikiran historiografi Ibnu Khaldun dan historiografi modern, khususnya dalam aspek kritik sumber, sejarah sosial, dan pendekatan multidisipliner. Oleh karena itu, pemikiran Ibnu Khaldun dapat dipahami sebagai salah satu fondasi penting dalam perkembangan historiografi kritis dan sejarah sosial modern.
The Significance of Lontara Bilang as Local Historiography in the Kingdom of Gowa Susmihara Susmihara; Nuraeni S; Lidya Megawati; Ahmad Habib Akramullah
Tarikhuna: Journal of History and History Education Vol 7, No 1 (2025): May 2025
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/thje.v7i1.11034

Abstract

As a living archive of the past, Indonesian history serves as a bridge connecting the past and present to reveal the wisdom and diversity of its people across the archipelago. South Sulawesi, as an integral part of this historical inheritance, has developed its own distinct narrative, including the existence of the Gowa Kingdom as a preserver of ancient traditions. Therefore, this research aims to further investigate and promote the Lontara Bilang script to enhance and broaden awareness of the history and values inherent in the cultural heritage of South Sulawesi, particularly within the context of the Gowa Kingdom. This research is a qualitative exploration employing descriptive analysis techniques. Data were collected through library research, involving the analysis of materials from library sources. The research process comprised Heuristics, Source Criticism, Interpretation and Historiography. The finsings of this investigation indicate that the significance of Lontara Bilang extends beyond its use in writing within the kingdom. More significantly, Lontara Bilang has played a crucial role in maintaining, reinforcing and preserving Gowa’s rich and historic cultural identity. The preservation of Lontara Bilang, as a custodian of the history and cultural heritage of the people of the archipelago, particularly the people of Gowa, must be preserved for the future. It should serve as a cultural symbol that embodies the unique identity of the people of South Sulawesi, especially Makassar or the Kingdom of Gowa at that time. Therefore, Lontara Bilang provodes a solid foundation and reference for the development of knowledge and science in the future.