Castia Sinaga
Universitas Sumatera Utara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

POLA TOPONIMI RESTORAN KULINER BATAK TOBA Castia Sinaga; Eldawati Limbong; Yohana Dwikartika Hutabarat; Dani Maichel Gultom; Ramlan Damanik; Erikson Saragih
Philosophica: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 9 No. 1 (2026): June 2026 (on Progress)
Publisher : English Literature Department, Faculty of Economics, Law, and Humanities

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis praktik toponimi (penamaan tempat) dan unsur-unsur linguistik Batak Toba yang digunakan dalam penamaan Lapo (restoran kuliner khas Batak) untuk memahami bagaimana hal tersebut mencerminkan identitas budaya, nilai-nilai, dan kearifan lokal masyarakat Batak Toba. Lapo Batak Toba dikenal sebagai pusat penyajian hidangan tradisional seperti Ikan Mas Arsik, Saksang, Na Niura yang secara keseluruhan memiliki nilai filosofis dan ritualistik yang mendalam. Secara geografis, daerah Batak Toba, terutama kawasan sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, memiliki pengaruh yang kuat terhadap kuliner, yang terlihat dari penggunaan bahan baku lokal seperti ikan air tawar dan bumbu khas andaliman. Dalam konteks restoran, penamaan Lapo seringkali mengadopsi strategi linguistik yang dihapuskan pada budaya setempat. Analisis menunjukkan bahwa praktik penamaan ini dapat dipecah menjadi beberapa pola utama, antara lain: penggunaan nama marga seperti "Lapo Raja...", nama-nama lokasi geografis yang ikonik (misalnya, Lapo Samosir, Lapo Toba), nama anggota keluarga atau tokoh yang dihormati, serta kata-kata yang mengandung nilai-nilai filosofis seperti kebersamaan ( marsipature hutana be ) atau harapan baik. Penggunaan toponimi dan nama yang berlandaskan budaya ini bertujuan menciptakan citra keaslian (autentisitas) dan menjadi penanda identitas yang kuat, baik bagi perantau Batak Toba maupun wisatawan. Penamaan tersebut berfungsi sebagai 'jembatan' yang menghubungkan diaspora Batak dengan kampung halaman, sekaligus mempromosikan wisata gastronomi di kawasan Danau Toba. Selain itu, penamaan dalam bahasa Batak Toba ditemukan dominan, menandakan upaya pelestarian bahasa dan budaya di tengah arus modernisasi. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan pola penggunaan nama-nama toponimi yang digunakan pada restoran kuliner Batak Toba. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna budaya dan sosial yang terkandung dalam nama-nama toponimi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana toponimi berkontribusi terhadap pelestarian tradisi kuliner serta memperkuat identitas budaya masyarakat Batak Toba. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai hubungan antara bahasa, budaya, dan identitas lokal yang tercermin melalui penamaan restoran Batak Toba.