Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

LEGENDA PAGAR BATU DI DESA PARDOMUAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Wesri Marbun; Asni Barus; Ramlan Damanik
Asas: Jurnal Sastra Vol 11, No 1 (2022): ASAS : Jurnal Sastra
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ajs.v11i1.31848

Abstract

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan kajian Sosiologi Sastra dalam Legenda Pagar Batu. Legenda ini adalah suatu cerita yang dimiliki oleh masyarakat Batak Toba. Cerita ini terletak di Desa Pardomuan, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Masalah dalam penelitian ini terdapat pada unsur intrinsik serta nilai-nilai sosiologi sastra yang terdapat dalam Legenda Pagar Batu. Tujuan utama dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi unsur intrinsik serta nilai-nilai yang terkandung pada sosiologi sastra. Dalam Legenda Pagar Batu, peneliti akan menganalisis dengan menggunakan metode deskriptif dan menggunakan metode penelitian lapangan. Teori dalam penelitian ini akan menggunakan teori struktural dan juga teori sosiologi sastra. Adapun unsur intrinsik dalam legenda ini mencakup tema, alur/plot, latar/setting serta perwatakan/penokohan. Nilai-nilai dalam sosiologi sastra pada legenda ini terdapat pada sistem kekerabatan, tanggung jawab, kasih sayang, serta pertentangan.
The Values of Character in Traditional Games Simalungun Society Ramlan Damanik; Warisman Sinaga
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 4, No 1 (2021): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v4i1.1713

Abstract

Simalungun ethnic is one of the ethnic in North Sumatra, Simalungun ethnic have some traditional games, marlubuk,marsitengka, marjalengkat, batu marsiada (mardara), marultop, margala, margodok, pattik lele, pecah piring, olei,olei, margasing, jalengkat sarip, marjakop, dan marampera. Discussions with an informan and immediately held a game involve some children in Sirpang Sigodang Kecamatan Raya village, for get Simalungun traditional games’ type. Methods such as recording, documenting, interviewing have eighteen character values, among others: religious values, honesty, tolerance, discipline, hard work, creative thinking, independence / independence, democracy, curiosity, national spirit, patriotism, appreciation for achievement, hospitality, peace, love to read, protect the environment, social care, and responsibility. Simalungun traditional games can be played at school, some friends in neighborhood for form character values.
Reproduction of Batak Manuscript for the Purposes of Revitalizing Local and Commercial Wisdom in Samosir Regency, North Sumatera Province Warisman Sinaga; Ramlan Damanik
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 3, No 4 (2020): Budapest International Research and Critics Institute November
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v3i4.1443

Abstract

Pustaha laklak is a handscrift or manuscript from Batak that uses tree bark as its medium. The writing in this pustaha laklak uses Batak script or also called the Batak letter. Batak letter has special technicalities in its writing. And this writing system is also closely related to the culture and local wisdom of Batak people. The relationship between the Batak script and the Batak customs is too close, so that efforts to obtain and possess these old texts continue to be carried out. One of the efforts undertaken by the community in Samosir Regency is to copy back the old manuscripts. This activity is part of the reproduction of the manuscript. However, this copying activity was carried out not solely for the purpose of saving the manuscript. However, commercial interests tend to be motivated because the texts are traded as souvenirs for local and foreign tourists. The right approach taken in this study is the approach of philology and local wisdom. Djamaris (2002: 3) said that philology is a science that makes old texts as the object of writing. Manuscript reproduction is an object of philology while the text or all messages contained in the manuscript is a form of local wisdom of the Toba Batak people. The research method used is the single manuscript edition method. Tomok Village and Tuktuk Siadong Village are suitable locations to be used as research sites because these two villages are closely related to the reproduction of manuscripts for commercial purposes for local and foreign tourists. Based on the studies conducted, it can be seen that copying is always done. Every writing of a manuscript, the writer refers to the manuscript that becomes the reference. The copying process is according to requests from what people need. The mistake that tends to be made is the use of child letter and parent letter, especially for child letter / i / and / u /.
a LEGENDA SIBORU LOPIAN DI DESA ONOM HUDON KECAMATAN PARLILITAN KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN KAJIAN FOLKLOR Roberto Gurning; Ramlan Damanik
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 15 No 1 (2022): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.684 KB) | DOI: 10.36277/kompetensi.v15i1.70

Abstract

Artikel ini berjudul “Legenda Siboro Lopian di Desa Onom Hudon Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan Kajian Folklor”. Dalam aritkel ini membahas bagaimana Legenda Siboru Lopian di Desa Onom Hudon serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta fungsi kepercayaan rakyat terhadap legenda Siboru Lopian. Sumber data maupun informasi mengenai Siboru Lopian didapat dari Buku yang berjudul “Lopian Putri Sisingamangaraja XII” serta beberapa sumber lainnya seperti wawancara secara langsung di Desa Sionom Hudon. Teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori folklor dengan melihat nilai budaya yang terkandung dalam legenda tersebut. Adapun hasil yang didapat adalah bahwa legenda Siboru Lopian mulai terlupakan oleh masyarakat  bahkan di Desa Sionom Hudon tersebut. Siboru Lopian merupakan seorang wanita pejuang dari tanah Batak. Ritual terhadap Sisingamangaraja XII sudah mulai dilupakan. Parmalim merupakan aliran kepercayaan disaat itu. Kematian Sisingamangaraja XII disebabkan oleh darah Siboru Lopian yang terkena kepada dirinya. Pasukan Sisingamangaraja XII tewas oleh pasukan Belanda.
The Meaning of the Functions and Motives of the Toba Batak Ethnic Ragidup Ulos: A Semiotic Study Noni Monalisa Manik; Ramlan Damanik
Journal of Language Development and Linguistics Vol. 2 No. 1 (2023): February, 2023
Publisher : PT FORMOSA CENDEKIA GLOBAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55927/jldl.v2i1.2817

Abstract

This article is entitled The Meaning of the Functions and Motives of the Toba Batak Ethnic Ragidup Ulos: A Semiotic Study. Ragidup Ulos has a symbol of life. said Ulos Ragidup because the colors, paintings and patterns (yeast) give the impression that ulos is really alive. This study aims to describe the motifs found in the Batak Toba ethnic Ragidup Ulos, to describe the functions and meanings of the symbols found on Ragidup Ulos. The theory used to analyze the data from this research is a semiotic theory, namely symbols put forward by Charles Sanders Peirce. The method used in this research is qualitative method. Based on the results of the research, in Ragidup Ulos there are 14 motifs which include: Jogia, Batu Assimun, Sigumang, Pamaltahi, Pinarhalak Boru, Pinarhalak Bawa, Centipede-Centipede, Ipon-Ipon, Rungkung Anduhur, Honda-Honda, Flowers, Simakkat- Akkat, Hotang-Hotang and Rambu. In addition to the types of motifs, in the Ragdup ulos also discussed the function and meaning of the Ragdup ulos motif.
KEARIFAN LOKAL TRADISI MARHAROAN BOLON MASYARAKAT SIMALUNGUN Damanik, France Pepin; Damanik, Ramlan
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 16 No 1 (2023): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v16i1.107

Abstract

Artikel ini membahas tentang tradisi gotong royong pada kegiatan marharoan bolon etnik Simalungun di kelurahan Sipolha, kecamatan Pamatang Sidamanik, kabupaten Simalungun. Marharoan bolon adalah sebuah wujud kearifan lokal penduduk Simalungun, marharoan bolon merupakan kegiatan gotong royang yang merupakan kegiatan tahunan pada masyarakat Simalungun. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan jenis marharoan bolon beserta tahap pelaksanaannya dan menjelaskan nilai-nilai kearifan lokal dalam marharoan bolon. Dalam penyelesaian artikel ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kajian kearifan lokal. Untuk menunjang hasil dalam artikel ini penulis menggunakan metode pengumpulan data yakni (1) Wawancara langsung dengan informan, (2) Observasi dan (3) Dokumentasi terkait objek yang diteliti. Adapun hasil yang ditemukan dalam artikel ini adalah terdapat 3 kegiatan marharoan bolon pada masyarakat Sipolha yaitu kegiatan gotong royong yang dilakukan secara bergiliran dalam mengerjakan ladang (marsialopari), kegiatan gotong royong guna menyukseskan acara pesta atau hajatan yang dibuat oleh tuan rumah (marhobas) dan gotong untuk memperbaiki maupun membersihkan jalan yang dilakukan oleh masyarakat di kelurahan Sipolha untuk keperluan dan kepentingan bersama (padearhon dalan). Dalam setiap pelaksanaan gotong royong ini terdapat langkah-langkah dan aturan yang harus dipatuhi terlebih dahulu. Kegiatan marharoan bolon merupakan suatu kegiatan yang harus dilestarikan dikarenakan tujuan dari marharoan bolon ini yakni agar masyarakat saling peduli dan saling menghargai satu sama lainnya. Terdapat banyak nilai-nilai kearifan lokal pada kegiatan marharoan bolon ini oleh sebab itu dengan adanya artikel ini penulis berharap kegiatan marharoan bolon ini harus dijaga kelestariannya agar tetap dilaksanakan oleh masyarakat Simalungun khususnya masyarakat Sipolha.
LEKSIKOSTATISTIK BAHASA BATAK KARO DAN BAHASA BATAK TOBA: SUATU KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF Ginting, Ria Clara; Sinaga, Warisman; Damanik, Ramlan
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.219

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan genetik antara bahasa Batak Karo dan Batak Toba, menentukan waktu perpisahan linguistik mereka, dan memperkirakan usia kedua bahasa tersebut. Menggunakan teori linguistik historis komparatif, khususnya pendekatan leksikostatistik dan glotokronologi yang dikemukakan oleh Gorys Keraf, penelitian ini menyediakan kerangka analisis untuk memahami evolusi linguistik dari bahasa-bahasa ini. Data untuk penelitian ini dikumpulkan melalui kombinasi metode observasi, wawancara, teknik pencatatan, dan perekaman. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 500 kosakata yang diteliti, terdapat 320 pasangan kata kerabat yang menunjukkan hubungan genetik sebesar 65%. Perpisahan antara bahasa Batak Karo dan Batak Toba diperkirakan terjadi sekitar tahun 1028 M atau pada abad ke-11, sekitar 995 tahun yang lalu (dihitung dari tahun 2023). Hasil ini memiliki implikasi penting bagi klasifikasi dan pemahaman hubungan genetik dalam bahasa-bahasa Batak. Temuan ini menekankan pentingnya penelitian komparatif yang lebih komprehensif yang melibatkan semua varian bahasa Batak guna mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang hubungan genetik dalam keluarga bahasa Batak. Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada studi linguistik historis komparatif bahasa-bahasa Austronesia di Indonesia, tetapi juga menyoroti pentingnya melestarikan keunikan dan kekayaan linguistik setiap varian bahasa Batak.
BENTUK DAN RITUAL MANGAN NA PAET DI ALIRAN KEPERCAYAAN PARMALIM ETNIK BATAK TOBA Silalahi, Ayudya Annisa; Siahaan, Jamorlan; damanik, Ramlan
Kompetensi : Jurnal Pendidikan dan Humaniora Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNIBA Vol 17 No 1 (2024): Kompetensi
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/kompetensi.v17i1.220

Abstract

Upacara ritual Mangan na Paet merupakan praktik penting dalam kepercayaan masyarakat Parmalim, yang secara harfiah berarti "makan yang pahit." Frasa ini memiliki makna simbolis dan spiritual, mengajarkan filosofi hidup Parmalim tentang menerima kesulitan dan penderitaan sebagai bagian dari proses spiritual dan pembelajaran hidup. Penelitian mengenai kearifan lokal dalam ritual ini bertujuan mengungkap nilai-nilai penting seperti penghormatan terhadap leluhur dan alam, gotong royong, pelestarian tradisi, seni dan budaya lokal, serta nilai spiritual dan moral. Menggunakan teori kearifan lokal dari Sibarani, yang dibagi menjadi kearifan lokal kedamaian dan kesejahteraan, penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan triangulasi data untuk menggali pemahaman mendalam mengenai ritual Mangan na Paet. Metode pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif dan kualitatif untuk menghasilkan kesimpulan objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kearifan lokal kedamaian dalam ritual ini mencakup etika, kebenaran, solidaritas, kedamaian, mediasi, dan konsistensi. Sementara itu, kearifan lokal kesejahteraan meliputi kerja keras dan pendidikan. Ritual Mangan na Paet dalam kepercayaan Parmalim memiliki makna mendalam, memperkuat identitas budaya, dan menjadi media edukasi bagi generasi muda dalam memahami nilai-nilai luhur kepercayaan ini.
Umpasa In The Giving Of Ulos In Traditional Batak Toba Ceremonies: Ananthropolinguistic Study Erica Yulia Citra Sitorus; Robert Sibarani; Sibarani, Jekmen Sinulingga; Warisman Sinaga; Ramlan Damanik
Journal of Mandalika Literature Vol. 5 No. 3 (2024)
Publisher : Institut Penelitian dan Pengembangan Mandalika (IP2MI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jml.v5i3.3582

Abstract

This research is entitled Umpasa in Giving Ulos at the Toba Batak Traditional Ceremony: An Anthropolinguistic Study. This research aims to describe the performance of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony, the indexicality of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony, and the participation of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony. The theory used to analyze the data is anthropolinguistic theory proposed by Alessandro Duranti. The method used in this research is descriptive qualitative method of interactive model. The results obtained from this study are the performance of umpasa in giving ulos at the traditional birth ceremony, namely: (1) mangirdak/mambosuri, (2) mangharoani, (3) mebat/paebathon, (4) tardidi. Performances in the traditional wedding ceremony, namely: (1) marhusip/marhori-hori dinding, (2) marhata sinamot, (3) martumpol, (4) marsibuhai-sibuhai, (5) manjalo pasu-pasu parbogashon, (6) marunjuk, (7) paulak une, and (8) manikkir tangga. Performances in the traditional death ceremony, namely: (1) martonggo raja, (2) sarimatua, and (3) saurmatua. Indexicality in the Toba Batak traditional ceremony, namely, (1) umpasa, (2) ulos. Participants of umpasa in giving ulos at the Toba Batak traditional ceremony are Dalihan Natolu (1) hula-hula, (2) dongan tubu, and (3) boru.
BULANG (WOMEN’S HEAD COVERING) SIMALUNGUN BATAK ETHNIC damanik, ramlan; sinaga, warisman; r purba, asriaty; sinulingga, jekmen; herlina
Lingue : Jurnal Bahasa, Budaya, dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2024): Indonesian Language and Literature Studies
Publisher : LP2M IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/lingue.v6i1.7568

Abstract

This article was written to reveal the meaning of the head covering for women or bulang for the Simalungun Batak community. The use of bulang or head coverings for women and what the meaning and function are for millennials, especially those who live in urban areas, has very little understanding. Therefore, the author created this article for describing the types of bulang and what the function and meaning of bulang are for the Simalungun Batak ethnic community. This research uses a qualitative approach and descriptive method and uses semiotic theory by Charles Sanders Pierce and data collection is carried out by observation, interviews and literature study. Data analysis was carried out using data reduction, translation and conclusions and suggestions. There are 4 types of bulang, namely Bulang Sulappei, Bulang Teget, Bulang Suyuk /Gijang and Bulang Hurbu Salalu. Bulang is for head cover and for giving identity. The meaning of wearing this bulang is as a symbol of maturity for Simalungun women.