Time performance is critical in construction project management, as schedule deviations can affect execution efficiency. Earned value management (EVM) is widely used in project control; however, its schedule indicator is cost-based, which can produce values that do not proportionally represent actual schedule conditions, particularly when a project shows significant acceleration (ahead of schedule). Earned schedule (ES) was developed to address this by converting schedule indicators into time units, enabling more realistic performance measurement. This study compares the effectiveness and accuracy of EVM and ES in time control for two ahead-of-schedule construction projects: a school project in Central Kalimantan (planned 13 weeks, actual 10 weeks) and a drainage project in Bogor (planned 9 weeks, actual 8 weeks). The analysis uses SV, SPI, and EAC(t) for EVM, and SV(t), SPI(t), and IEAC(t) for ES, with accuracy measured using MAPE. Results show SPI(t) is more stable and proportional than SPI. Project 1 shows ES's MAPE (30.92%) lower than EVM's (54.70%), while Project 2 shows ES (5.80%) outperforming EVM (7.86%). ES proved more accurate and is recommended as a complement to EVM, particularly for infrastructural development projects, where accurate time control helps reduce the risk of project delay. Abstrak Kinerja waktu merupakan aspek penting dalam manajemen proyek konstruksi karena penyimpangan jadwal dapat memengaruhi efisiensi pelaksanaan proyek. Metode earned value management (EVM) banyak digunakan dalam pengendalian proyek, namun indikator jadwalnya berbasis satuan biaya sehingga dapat menghasilkan nilai yang tidak merepresentasikan kondisi jadwal secara proporsional, terutama ketika proyek mengalami percepatan signifikan (ahead of schedule). Metode earned schedule (ES) dikembangkan untuk mengatasi hal tersebut dengan mengonversi indikator jadwal ke dalam satuan waktu agar pengukuran kinerja lebih realistis. Penelitian ini membandingkan efektivitas dan akurasi EVM dan ES dalam pengendalian waktu dua proyek konstruksi berkategori ahead of schedule, yaitu proyek sekolah di Kalimantan Tengah (rencana 13 minggu, aktual 10 minggu) dan proyek drainase di Bogor (rencana 9 minggu, aktual 8 minggu). Analisis menggunakan SV, SPI, dan EAC(t) untuk EVM, serta SV(t), SPI(t), dan IEAC(t) untuk ES, dengan akurasi diukur menggunakan MAPE. Hasil menunjukkan SPI(t) lebih stabil dan proporsional dibanding SPI. Proyek 1 menunjukkan MAPE ES (30,92%) lebih rendah dari EVM (54,70%), sedangkan proyek 2 menunjukkan ES (5,80%) lebih unggul dari EVM (7,86%). ES terbukti lebih akurat dan direkomendasikan sebagai pelengkap EVM, khususnya untuk proyek pembangunan infrastruktur, di mana pengendalian waktu yang akurat membantu mengurangi risiko keterlambatan proyek.