This Author published in this journals
All Journal THE COMMERCIUM
Aldrino Dimas Putra Yuwana Yuwana
Universitas Negeri Surabaya

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

REPRESENTASI GAYA HIDUP DESTRUKTIF FOTOGRAFER PADA KARAKTER JONATHAN DALAM FILM SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN (2025) Aldrino Dimas Putra Yuwana Yuwana; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.80847

Abstract

Film sebagai media komunikasi massa kerap menampilkan pekerja kreatif, termasuk fotografer, melalui gaya hidup yang tidak stabil sehingga membentuk stereotip seniman yang menderita (suffering artist). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi gaya hidup destruktif fotografer dikonstruksi melalui karakter Jonathan dalam film SORE: Istri dari Masa Depan (2025). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivistik serta metode analisis semiotika John Fiske yang membagi tanda ke dalam tiga level, yaitu realitas, representasi, dan ideologi. Data penelitian berupa dua belas scene yang menampilkan kebiasaan destruktif Jonathan, dikumpulkan melalui teknik observasi dan tangkapan layar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level realitas, gaya hidup destruktif Jonathan dibangun melalui kode sosial berupa adiksi rokok dan alkohol serta ruang kerja yang tidak teratur. Pada level representasi, kode teknis seperti pencahayaan redup, sudut pengambilan gambar high angle, dan teknik close up digunakan untuk memperkuat kesan keterasingan dan kerapuhan emosional. Pada level ideologi, film ini mereproduksi mitos suffering artist, yakni penderitaan personal dianggap sebagai bagian yang wajar dari proses kreatif, namun sekaligus mengungkap bahwa akar dari gaya hidup destruktif tersebut adalah trauma masa kecil akibat pengabaian sang ayah. Dengan demikian, film ini tidak sepenuhnya meromantisasi gaya hidup destruktif seniman, melainkan turut menampilkan konsekuensi nyata yang dialami oleh karakter tersebut.