p-Index From 2021 - 2026
1.323
P-Index
This Author published in this journals
All Journal THE COMMERCIUM
Putri Aisyiyah Rachma Dewi
Universitas Negeri Surabaya

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

REPRESENTASI GAYA HIDUP DESTRUKTIF FOTOGRAFER PADA KARAKTER JONATHAN DALAM FILM SORE: ISTRI DARI MASA DEPAN (2025) Aldrino Dimas Putra Yuwana Yuwana; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.80847

Abstract

Film sebagai media komunikasi massa kerap menampilkan pekerja kreatif, termasuk fotografer, melalui gaya hidup yang tidak stabil sehingga membentuk stereotip seniman yang menderita (suffering artist). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi gaya hidup destruktif fotografer dikonstruksi melalui karakter Jonathan dalam film SORE: Istri dari Masa Depan (2025). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivistik serta metode analisis semiotika John Fiske yang membagi tanda ke dalam tiga level, yaitu realitas, representasi, dan ideologi. Data penelitian berupa dua belas scene yang menampilkan kebiasaan destruktif Jonathan, dikumpulkan melalui teknik observasi dan tangkapan layar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada level realitas, gaya hidup destruktif Jonathan dibangun melalui kode sosial berupa adiksi rokok dan alkohol serta ruang kerja yang tidak teratur. Pada level representasi, kode teknis seperti pencahayaan redup, sudut pengambilan gambar high angle, dan teknik close up digunakan untuk memperkuat kesan keterasingan dan kerapuhan emosional. Pada level ideologi, film ini mereproduksi mitos suffering artist, yakni penderitaan personal dianggap sebagai bagian yang wajar dari proses kreatif, namun sekaligus mengungkap bahwa akar dari gaya hidup destruktif tersebut adalah trauma masa kecil akibat pengabaian sang ayah. Dengan demikian, film ini tidak sepenuhnya meromantisasi gaya hidup destruktif seniman, melainkan turut menampilkan konsekuensi nyata yang dialami oleh karakter tersebut.
REPRESENTASI INTENSIVE MOTHERING PADA TOKOH SOO-AH DALAM FILM BE WITH YOU (2018): ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES Elfrida Kumala Widyadhana; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi intensive mothering pada tokoh Soo-Ah dalam film Be With You (2018). Ideologi intensive mothering yang dikemukakan Sharon Hays (1996) menempatkan ibu sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak yang bersifat child-centered, labor-intensive, emotionally absorbing, expert-guided, dan financially expensive. Film Korea Selatan dipilih sebagai objek kajian mengingat tingginya konsumsi budaya populer Korea (Hallyu) di Indonesia yang berpotensi memperkuat resonansi ideologi keibuan tersebut dengan konstruksi ibuisme yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan pendekatan kualitatif deskriptif serta metode analisis semiotika Roland Barthes yang membedah tanda melalui tiga tahap pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos. Data primer diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap enam adegan terpilih secara purposive sampling yang menampilkan tokoh Soo-Ah, dengan teknik keabsahan data berupa peer debriefing dan analisis data model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima ciri intensive mothering menurut Hays, tiga di antaranya terbukti secara konsisten direpresentasikan melalui tokoh Soo-Ah, yaitu child-centered, labor-intensive, dan emotionally absorbing. Ketiga indikator tersebut dibangun secara berlapis melalui elemen sinematik seperti wardrobe, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, dan dialog, yang secara kumulatif menaturalisasi pengabdian ibu sebagai identitas utama perempuan, diperkuat oleh penghapusan identitas personal Soo-Ah sejalan dengan konsep the Other dan immanence dari Simone de Beauvoir.
REPRESENTASI ANAK JENIUS DI MEDIA SOSIAL TIKTOK (KAJIAN SEMIOTIK PADA AKUN TIKTOK @IMCHIKA21) Bella Kinanti Putri; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81386

Abstract

Meningkatnya konten mengenai gifted child di media sosial TikTok menunjukkan bahwa platform digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan makna dan persepsi publik terhadap identitas anak berbakat. Penelitian terdahulu umumnya mengkaji gifted child dari perspektif psikologi dan pendidikan, sedangkan kajian mengenai konstruksi representasi gifted child dalam konten TikTok melalui pendekatan semiotika masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi gifted child dalam konten akun TikTok @imchika21 menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menganalisis tiga video yang dipilih secara purposif berdasarkan intensitas penyajian karakteristik anak berbakat. Analisis dilakukan melalui hubungan triadik representamen, objek, dan interpretant untuk mengungkap makna yang dibangun oleh tanda-tanda visual dan verbal dalam setiap konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi gifted child dikonstruksi melalui dominasi tanda visual dan verbal yang menampilkan kemampuan akademik di atas rata-rata, rasa ingin tahu yang tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, serta interaksi edukatif antara orang tua dan anak sehingga membentuk citra ideal anak berbakat di ruang digital. Temuan ini menunjukkan bahwa representasi gifted child di TikTok tidak hanya merefleksikan kemampuan intelektual anak, tetapi juga merupakan hasil konstruksi makna yang membentuk persepsi publik mengenai identitas anak berbakat. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya kajian komunikasi digital dan semiotika media dengan menunjukkan peran TikTok sebagai ruang produksi dan diseminasi makna melalui representasi visual dan verbal.
Pola Komunikasi Organisasi Karyawan dan Mahasiswa Program Magang di Bagian Humas Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya Sindy Riska Fadillah; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81782

Abstract

Komunikasi organisasi menjadi faktor penting dalam mendukung koordinasi kerja, adaptasi anggota baru, serta internalisasi budaya organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola komunikasi organisasi antara karyawan dan mahasiswa program magang di Bagian Humas Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap enam informan yang terdiri atas Manajer Tata Usaha dan Humas, Supervisor Humas, dua staf Humas, satu mahasiswa magang aktif, dan satu alumni program magang. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman dengan perspektif budaya komunikasi organisasi Katherine Miller serta konsep strong culture dari Deal dan Kennedy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi organisasi terbentuk melalui komunikasi vertikal, horizontal, dan informal yang saling melengkapi dalam mendukung koordinasi kerja. Saluran komunikasi berlangsung melalui interaksi tatap muka dan media digital sehingga mempercepat penyampaian informasi dan koordinasi pekerjaan. Gaya komunikasi yang terbuka, suportif, dan profesional mempermudah proses adaptasi mahasiswa magang sekaligus membangun hubungan kerja yang kolaboratif. Budaya organisasi juga berperan dalam menginternalisasikan nilai-nilai organisasi melalui orientasi, pendampingan mentor, briefing, evaluasi berkala, serta jaringan komunikasi formal dan informal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa komunikasi organisasi tidak hanya berfungsi sebagai media penyampaian informasi, tetapi juga menjadi mekanisme pembentukan budaya organisasi yang mendukung adaptasi, profesionalisme, dan efektivitas kerja mahasiswa magang dalam lingkungan birokrasi publik.
ANALISIS IMPLEMENTASI TOTAL QUALITY MANAGEMENT PADA PENCAPAIAN MUTU PENYAJIAN KONTEN CYBER RELIGION: (Studi Kasus pada media Progresif TV Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat Sidoarjo) Moch Ues Al Karoni; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.72667

Abstract

Digitalisasi teknologi dan informasi merupakan salah satu bentuk perkembangan zaman saat ini. salah satunya adalah pertumbuhan masyarakat di media sosial dalam sektor dakwah digital.Tujuan Penelitian ini Untuk mengetahui bagaimana Implementasi unsur Total Quality Manajemen (TQM) dalam produksi Konten Edukasi Religi (Cyber religion) yang optimal untuk pencapaian mutu penyajian konten religi dan untuk mengetahui apa saja faktor pendukung, penghambat implementasi unsur Total Quality Manajemen (TQM) dalam produksi Konten Edukasi Religi. Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan Kualitatif yang bersifat deskriptif. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara, teknik dokumentasi. Data yang diperoleh mengenai implemtasi Total Quality Management pada pencapaian mutu penyajian konten edukasi diolah menggunakan teori TQM. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa Progresif TV telah melaksanakan unsur-unsur Utama Total Quality Manajemen berupa, pertama meningkatakan kepuasan audience dengan memperkuat sumber daya manusia dan prasarana,kedua, memberikan kelonggaran audience dalam menyampaikan ketidakpuasan melalui direct message, Obsesi pada kualitas konten dengan cara menyajikan konten dakwah yang mudah diterima oleh masyarakat,ketiga, ketercapaian visi misi dengan cara menjaga konsistensi dalam menyajikan konten edukasi religi,keempat, Menjaga komitmen jangka Panjang, dengan ini Progresif TV berkomitmen untuk menjadikan sebuah media yang digemari masyrakat dengan menyajikan konten yang berkualitas. kelima, perbaikan berkesinambungan, yang mana progresif TV menerapkan alur proses produksi sesuai system dan terjadwal menggunakan siklus praproduksi, produksi dan pasca produksi.
WACANA KEBERDAYAAN PEREMPUAN DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM PEREMPUAN BERKISAH Ajeng Nurafifah; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.75455

Abstract

Penelitian ini mengkaji wacana keberdayaan perempuan pada media sosial Instagram, khususnya pada akun @perempuanberkisah. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya tingkat kesetaraan gender di Indonesia, di mana Indonesia menempati peringkat ke-97 dari 148 negara dalam Global Gender Gap Report 2025, serta meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan. Fokus penelitian adalah untuk menganalisis representasi "perempuan berdaya" dalam kampanye digital yang dilakukan oleh komunitas Perempuan Berkisah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis wacana kritis perspektif Michel Foucault, yang mencakup tahapan arkeologi pengetahuan dan genealogi kekuasaan. Data primer diperoleh melalui observasi terhadap tiga unggahan akun Instagram @perempuanberkisah pada periode Agustus hingga September 2025. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran narasi yang signifikan, di mana konsep perempuan berdaya yang semula bersifat sosial-politik berubah menjadi lebih individualistik. Melalui praktik diskursif, keberdayaan direpresentasikan sebagai kondisi otonomi pribadi, pengelolaan emosi, dan penerimaan diri (self-acceptance). Temuan ini mengindikasikan bahwa wacana tersebut cenderung mengeksklusi isu-isu ketimpangan struktural, seperti sistem patriarki dan kebijakan publik, serta memindahkan tanggung jawab perubahan sosial ke pundak individu perempuan itu sendiri.
Analisis Genre Laga Dalam Film The Night Comes for Us (2018), The Big 4 (2022), dan The Shadow Strays (2024) Karya Timo Tjahjanto Zefanya Azzahra Sapna Clarisa; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.75530

Abstract

Penelitian yang dilakukan merupakan analisis genre laga dalam film The Night Comes for Us (2018), The Big 4 (2022), dan The Shadow Strays (2024). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi genre laga dalam film The Night Comes for Us (2018), The Big 4 (2022), dan The Shadow Strays (2024). Metode penelitian ini adalah analisis genre berdasarkan repertoire of elements milik Nick Lacey (2016) yang terdiri dari ikonografi, narasi, setting, dan karakter. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dan sifat penelitian ini adalah deskriptif. Data primer penelitian ini diperoleh dari film The Night Comes for Us (2018), The Big 4 (2022), dan The Shadow Strays (2024). Data sekunder penelitian ini berupa dokumen pustaka, buku, internet, dan jurnal terdahulu. Data penelitian dikumpulkan dengan cara observasi film, studi pustaka, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan, dari pola berulang dalam ketiga film yang diteliti, ditemukan karakteristik film genre laga karya Timo Tjahjanto berupa adanya penggunaan senjata sebagai gimmick, adegan kekerasan yang brutal, akhir film yang terbuka, pijakan moral karakter pahlawan berupa mengikuti hati nurani, pijakan moral karakter penjahat berupa membalas perbuatan karakter pahlawan sebagai konsekuensi, dan pijakan moral karakter pahlawan palsu yang selalu patuh pada perintah. Terdapat pula eksperimen yang dituangkan Timo Tjahjanto berupa karakterisasi tokoh perempuan secara bertahap dari film ke film.
REPRESENTASI MITOS WHITE SAVIOR DALAM FILM GREEN BOOK (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Ihza Risqi Ariananda; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.75594

Abstract

Film Green Book (2018) kerap diposisikan sebagai film humanis yang mengangkat persahabatan lintas ras dan kritik terhadap rasisme di Amerika Serikat. Namun, narasi tersebut tidak terlepas dari persoalan representasi ideologis, khususnya terkait dengan mitos white savior. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mitos white savior direpresentasikan dan dinaturalisasi dalam film Green Book melalui relasi kuasa antara karakter Tony Vallelonga dan Dr. Don Shirley. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes, yang mencakup tingkat makna denotasi, konotasi, dan mitos. Data penelitian berupa adegan dan dialog terpilih yang merepresentasikan dominasi naratif, pengambilan keputusan, serta tindakan penyelamatan dalam konteks diskriminasi rasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Green Book membangun mitos white savior dengan menempatkan karakter kulit putih sebagai subjek aktif dan solutif, sementara karakter kulit hitam direpresentasikan sebagai pihak yang bergantung pada intervensi tersebut. Mitos ini berfungsi mengaburkan sifat struktural rasisme dan menormalisasi superioritas moral kulit putih dalam narasi sinema populer.
ANALISIS RESEPSI PENONTON TERHADAP DAMPAK JUDI ONLINE DALAM FILM NO MORE BETS Nadya Zahra Kinasih; Putri Aisyiyah Rachma Dewi
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.75717

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi penonton terhadap dampak judi online yang direpresentasikan dalam film No More Bets. Judi online merupakan salah satu bentuk kejahatan siber yang semakin marak di Indonesia dan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, serta psikologis bagi individu dan lingkungan sekitarnya. Film No More Bets mengangkat isu tersebut melalui penggambaran karakter Gu Tianzhi sebagai korban kecanduan judi online. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi berdasarkan teori encoding decoding Stuart Hall dan teori uses and gratification sebagai teori pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan dewasa muda yang telah menonton film No More Bets dan memiliki latar belakang serta pengalaman yang berbeda terkait judi online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi penonton terhadap dampak judi online terbagi ke dalam tiga posisi pemaknaan, yaitu posisi hegemonik dominan, posisi negosiasi, dan posisi oposisi. Mayoritas informan berada pada posisi hegemonik dominan, di mana mereka menerima dan menyetujui pesan film mengenai dampak negatif judi online yang meliputi gangguan aktivitas sehari-hari, ketidakstabilan emosi, kerusakan hubungan sosial, tekanan ekonomi, dan gangguan psikologis. Sebagian informan berada pada posisi negosiasi dengan menerima pesan utama film namun menyesuaikannya dengan pengalaman pribadi dan konteks sosial masing-masing. Sementara itu, tidak ada informan yang menunjukkan posisi oposisi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film No More Bets efektif sebagai media komunikasi massa dalam membangun kesadaran penonton mengenai bahaya judi online dan kompleksitas dampaknya dalam kehidupan nyata.