Masa muda merupakan fase transisi yang sering kali diwarnai oleh berbagai tantangan, seperti tekanan akademik, tuntutan sosial, kebingungan dalam menentukan arah hidup, hingga pengalaman Quarter-Life Crisis. Sebagai media yang merepresentasikan realitas sosial, video musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan melalui berbagai tanda visual yang dapat dimaknai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi masa muda dan solidaritas generasi dalam video musik Cheers to youth karya SEVENTEEN menggunakan semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Data penelitian diperoleh melalui observasi terhadap adegan-adegan dalam video musik yang merepresentasikan masa muda dan solidaritas generasi, kemudian dianalisis menggunakan konsep Sign, Object, dan Interpretant. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi masa muda dibangun melalui berbagai tanda visual, seperti robot, panggilan telepon anonim, ruang pribadi yang berantakan, pet rock, dan meerkat yang merepresentasikan tekanan emosional, kecemasan, keterasingan, serta pencarian makna yang dialami generasi muda pada fase Quarter-Life Crisis. Sementara itu, representasi solidaritas generasi ditunjukkan melalui kehadiran TinyIssue Club sebagai ruang aman (safe space) yang menghadirkan dukungan emosional, rasa saling memahami, dan kebersamaan antarsebaya dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Melalui representasi tersebut, video musik Cheers to youth menggambarkan bahwa pengalaman masa muda tidak selalu harus dihadapi secara individual, melainkan dapat dilalui melalui dukungan dan solidaritas antarsebaya.