Era digital telah mengubah cara remaja berinteraksi, berkomunikasi, dan membentuk pemahaman mereka tentang kehidupan sosial. Bersamaan dengan manfaat yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi, berbagai masalah sosial juga muncul, termasuk meningkatnya kecenderungan kekerasan di kalangan siswa. Studi ini membahas degradasi nilai-nilai Pancasila melalui kasus serangan bom molotov yang dilakukan oleh seorang siswa SMP di Kalimantan Barat dari perspektif pendidikan karakter. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti bentuk-bentuk penurunan nilai-nilai Pancasila yang tercermin dalam insiden tersebut, mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi pada melemahnya kesadaran moral di kalangan remaja, dan menganalisis pentingnya penguatan pendidikan karakter di era digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur dengan meneliti buku, jurnal akademik, peraturan hukum, dan fenomena sosial yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa insiden tersebut mencerminkan melemahnya nilai-nilai kemanusiaan, empati, pengendalian diri, dan penyelesaian konflik secara damai di kalangan remaja. Faktor-faktor seperti perundungan, kurangnya pengawasan keluarga, paparan negatif terhadap konten digital, dan terbatasnya implementasi pendidikan karakter kontekstual berkontribusi secara signifikan terhadap perilaku agresif di kalangan siswa. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila dan pendekatan restoratif sangat penting dalam mengembangkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga berlandaskan moral, bertanggung jawab secara sosial, dan mampu menanggapi tantangan era digital dengan bijak.