p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Keperawatan GSH
Y Wahyunti Kristiningtyas
Akper Giri Satria Husada

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDIDIKAN NUTRISI MAKANAN CEPAT SAJI MENINGKATKAN STATUS HEMOGLOBIN DI KALANGAN REMAJA PUTRI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA: MIXED METHODS DARI PEDESAAN INDONESIA: FAST FOOD NUTRITION EDUCATION IMPROVES HEMOGLOBIN STATUS AMONG JUNIOR HIGH SCHOOL ADOLESCENT GIRLS: A MIXED METHODS STUDY FROM RURAL INDONESIA Putri Halimu Husna; Anas Rachmad Sanjaya; Y Wahyunti Kristiningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.187

Abstract

Latar Belakang: Anemia defisiensi besi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di kalangan remaja putri, khususnya di daerah pedesaan Indonesia. Konsumsi makanan cepat saji yang sering, dengan kandungan zat besi dan mikronutrien yang rendah, berkontribusi pada kualitas diet yang buruk dan meningkatkan risiko anemia. Pendidikan gizi dianggap sebagai strategi yang layak untuk memperbaiki perilaku diet dan mencegah anemia di kalangan remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan nutrisi makanan cepat saji terhadap status hemoglobin pada remaja putri sekolah menengah pertama di pedesaan Indonesia. Metode Penelitian: Penelitian metode campuran dilakukan di Dusun Nangger, Desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri. Komponen kuantitatif menggunakan pendekatan pretest-posttest satu kelompok yang melibatkan lima remaja putri yang dipilih melalui purposive sampling dari populasi 20 partisipan. Kadar hemoglobin (Hb) diukur sebelum dan sesudah intervensi pendidikan gizi. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam untuk mengeksplorasi kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, keluhan kesehatan yang dirasakan, dan pengalaman partisipan setelah intervensi pendidikan. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif, sedangkan temuan kualitatif dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil: Sebelum intervensi, semua peserta mengalami anemia ringan, dengan kadar Hb berkisar antara 10,5 hingga 11,4 g/dL. Setelah edukasi nutrisi, kadar Hb meningkat menjadi 12,2–14,0 g/dL, dengan peningkatan rata-rata 1,9 g/dL, yang menunjukkan normalisasi status hemoglobin. Temuan kualitatif mengungkapkan penurunan konsumsi makanan cepat saji, peningkatan kesadaran akan pola makan sehat, dan berkurangnya gejala seperti kelelahan, pusing, konsentrasi buruk, dan kantuk di siang hari. Kesimpulan: Pendidikan nutrisi tentang makanan cepat saji efektif meningkatkan status hemoglobin dan mendorong perilaku diet yang lebih sehat di kalangan remaja putri. Mengintegrasikan pendidikan nutrisi berbasis sekolah dan komunitas ke dalam program kesehatan remaja dapat menjadi strategi yang efektif untuk mencegah anemia di daerah pedesaan. ABSTRACT Background: Iron deficiency anemia remains a major public health problem among adolescent girls, particularly in rural areas of Indonesia. Frequent consumption of fast food, characterized by low iron and micronutrient content, contributes to poor dietary quality and increases the risk of anemia. Nutrition education is considered a feasible strategy to improve dietary behavior and prevent anemia among adolescents. Goals: This study aimed to analyze the effect of fast food nutrition education on hemoglobin status among junior high school adolescent girls in rural Indonesia. Methods: A mixed methods study was conducted in Dusun Nangger, Nambangan Village, Selogiri District, Wonogiri Regency. The quantitative component employed a one-group pretest–posttest approach involving five adolescent girls selected through purposive sampling from a population of 20 participants. Hemoglobin (Hb) levels were measured before and after the nutrition education intervention. Qualitative data were collected through in-depth interviews to explore participants' fast food consumption habits, perceived health complaints, and experiences following the educational intervention. Quantitative data were analyzed descriptively, while qualitative findings were analyzed using thematic analysis. Results: Before the intervention, all participants had mild anemia, with Hb levels ranging from 10.5 to 11.4 g/dL. Following nutrition education, Hb levels increased to 12.2–14.0 g/dL, with an average improvement of 1.9 g/dL, indicating normalization of hemoglobin status. Qualitative findings revealed decreased fast food consumption, improved awareness of healthy eating, and reduced symptoms such as fatigue, dizziness, poor concentration, and daytime sleepiness. Conclusion: Fast food nutrition education effectively improved hemoglobin status and promoted healthier dietary behaviors among adolescent girls. Integrating school- and community-based nutrition education into adolescent health programs may represent an effective strategy for preventing anemia in rural settings.
KOMPRES HANGAT JAHE DALAM MENURUNKAN INTENSITAS NYERI PENDERITA GOUT ARTRITIS Y Wahyunti Kristiningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i1.170

Abstract

ABSTRAK Gout artritis atau yang dikenal sebagai asam urat merupakan salah satu penyakit radang sendi yang disebabkan oleh penumpukan kristal monosodium urat akibat peningkatan kadar asam urat (hiperurisemia) dalam darah. Penyakit ini ditandai dengan nyeri hebat, pembengkakan, kemerahan, serta rasa panas pada sendi, terutama pada sendi metatarsofalangeal (ibu jari kaki), pergelangan kaki, lutut, dan pergelangan tangan. Salah satu terapi nonfarmakologis yang banyak digunakan secara tradisional adalah kompres jahe. Pemberian kompres jahe hangat pada area sendi yang mengalami peradangan memberikan efek vasodilatasi lokal yang meningkatkan sirkulasi darah, membantu relaksasi otot, serta mempercepat proses penyembuhan jaringan. Sensasi hangat yang dihasilkan juga memberikan efek relaksasi dan kenyamanan sehingga intensitas nyeri dapat berkurang secara bertahap. Tujuan penelitian untuk mengetahui efektifitas kompres hangat jahe dalam menurunkan intensitas nyeri pada penderita gout artritis. Desain penelitian Quasi Eksperimen dengan rancangan one group pre-test dan post test desain. Subyek penelitian sebanyak 30 orang usia 46-75 tahun di Desa Pare Kecamatan Selogiri. Pengambilan sampel dengan teknik simple random sampling. Instrumen pengukuran Nyeri dengan Numeric Rating Scale. Analisa data univariat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan Analisa data bivariat menggunakan uji T berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas nyeri sebelum diberikan kompres hangat jahe sebagian besar (66,7%) kategori sedang dan setelah diberikan kompres hangat jahe sebagian besar (83,3%) berada dalam kategori ringan. Hasil uji statistik nilai p = 0,0001 maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan rata-rata intensitas nyeri sebelum dan setelah diberikan kompres hangat jahe. Kesimpulan : kompres hangat jahe efektif mengurangi intensitas nyeri pada penderita gout artritis. ABSTRACT Gout arthritis, also known as uric acid, is an inflammatory joint disease caused by the accumulation of monosodium urate crystals due to increased uric acid levels (hyperuricemia) in the blood. This disease is characterized by severe pain, swelling, redness, and a burning sensation in the joints, especially the metatarsophalangeal joints (big toe), ankles, knees, and wrists. One non-pharmacological therapy that is widely used traditionally is ginger compresses. Applying warm ginger compresses to the inflamed joint area provides a local vasodilatory effect that improves blood circulation, helps relax muscles, and accelerates the tissue healing process. The resulting warm sensation also provides a relaxing and comfortable effect so that pain intensity can gradually decrease. The purpose of this study was to determine the effectiveness of warm ginger compresses in reducing pain intensity in gout arthritis sufferers. The research design was a Quasi Experiment with a one-group pre-test and post-test design. The research subjects were 30 people aged 46-75 years in Pare Village, Selogiri District. Sampling used a simple random sampling technique. The pain measurement instrument used was a Numeric Rating Scale. Univariate data analysis is presented in the form of a frequency distribution table, and bivariate data analysis uses a paired t-test. The results showed that the pain intensity before the warm ginger compress was mostly (66.7%) moderate, and after the warm ginger compress, mostly (83.3%) mild. The statistical test results showed a p-value of 0.0001, indicating a significant difference in the average pain intensity before and after the warm ginger compress.Conclusion: Warm ginger compresses are effective in reducing pain intensity in gouty arthritis patients.
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN ANAK USIA SEKOLAH DASAR: THE INFLUENCE OF HEALTH EDUCATION ON PREVENTING SEXUAL VIOLENCE ON THE LEVEL OF KNOWLEDG OF ELEMENTARY SCHOOL CHILDREN AT SDN 1 EROMOKO Dinira Safina; Retno Ambarwati; Y Wahyunti Kristiningtyas
Jurnal Keperawatan GSH Vol. 15 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Akademi Keperawatan Giri Satria Husada Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56840/jkgsh.v15i2.189

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual merupakan tindakan tidak terpuji, bisa melalui dengan perkataan maupun perbuatan yang dilakukan seseorang terhadap orang lain sehingga terlibat perilaku seksual yang tidak diinginkan orang lain. Faktor individu yaitu segi psikologi pelaku dan kedua, faktor sosial yaitu mengacu pada segi sosial kebudayaan yang diikuti oleh masyarakat. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan asuhan keperawatan dengan pemberian pendidikan kesehatan dalam meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak usia sekolah dasar. Metode Penelitian: Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus ini dipilih bertujuan untuk melakukan pengukuran atau pengamatan secara bersamaan dengan pengetahuan dan sikap siswa dan siswi SDN 1 Eromoko tentang pengetahuan pencegahan kekerasan seksual. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sebelum diberikan pendidikan kesehatan anak memperoleh kriteria kurang dengan dengan nilai terendah 30% dan tertinggi 90%. Setelah dilakukan pendidikan kesehatan maka tingkat pengetahuan meningkat dengan kategori kurang menjadi kategori baik dengan nilai terendah 80% dan nilai tertinggi 100%. Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan sangat berpengaruh untuk tingkat pengetahuan responden anak usia sekolah dasar. ABSTRACT Background: : Sexual violence is an inappropriate act, it can be through words or actions that are done by someone to another person so that they are involved in sexual behavior that is not wanted by others. Individual factors are the psychological aspects of the perpetrator and second, social factors refer to the socio-cultural aspects followed by the community. Objective: The purpose of this study is to describe nursing care by providing health education in increasing knowledge about preventing sexual violence in elementary school children. Methods: The design of this study uses quantitative research with a case study approach. This case study approach was chosen with the aim of simultaneously measuring or observing the knowledge and attitudes of students at SDN 1 Eromoko about knowledge of preventing sexual violence. Results: Based on the results of the study conducted before being given health education, children obtained criteria that were lacking with the lowest value of 30% and the highest 90%. After health education was carried out, the level of knowledge increased from the lacking category to the good category with the lowest value of 80% and the highest value of 100%. Conclusion: : It can be concluded that providing health education has a great influence on the level of knowledge of elementary school children.