Hutan lindung memiliki fungsi ekologis yang sangat penting, namun informasi mengenai keanekaragaman hayati di dalamnya, khususnya tumbuhan paku, masih sangat terbatas. Tumbuhan paku berperan sebagai komponen penting dalam ekosistem hutan serta dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies tumbuhan paku yang terdapat di Kawasan Hutan Lindung Gawa Kedatu yang memiliki luas 138.000 m². Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode jelajah (eksploratif) yang dilakukan di seluruh kawasan hutan pada bulan November 2025 hingga Januari 2026. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan mempertimbangkan perbedaan karakteristik morfologi dan keterwakilan habitat. Seluruh spesimen yang ditemukan diidentifikasi secara morfologi berdasarkan ciri-ciri organ vegetatif dan generatifnya menggunakan buku panduan identifikasi dan kunci determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan ini ditemukan sebanyak 24 spesies tumbuhan paku yang tergolong ke dalam 17 genus, 3 ordo, dan 11 famili. Spesies-spesies yang teridentifikasi meliputi Adiantum lunulatum, Adiantum capillus-veneris, Adiantum caudatum, Pteris multifida, Pteris sp., Pteris biaurita, Pteris ensiformis, Pyrrosia piloselloides, Phymatosorus scolopendria, Platycerium bifurcatum, Drynaria quercifolia, Microsorum sp., Goniophlebium verrucosum, Cyclosorus interruptus, Cyclosorus sp., Amphineuron immersum, Asplenium nidus, Nephrolepis exaltata, Tectaria aurita, Huperzia squarrosa, Elaphoglossum latifolium, Diplazium esculentum, Lygodium japonicum, dan Microlepia todayensis christ. Temuan ini mengindikasikan bahwa Kawasan Hutan Lindung Gawa Kedatu memiliki tingkat keanekaragaman tumbuhan paku yang cukup tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa kawasan tersebut menyimpan kekayaan jenis paku yang beragam, sehingga hasil penelitian ini sangat penting untuk dijadikan sebagai data dasar (baseline) dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati, pengelolaan kawasan hutan lindung secara berkelanjutan, serta sebagai acuan bagi penelitian ekologi dan taksonomi tumbuhan paku di masa mendatang.