Krisis iklim global dan meningkatnya tuntutan investor, regulator, serta konsumen terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab telah mendorong pergeseran paradigma keberlanjutan dari sekadar inisiatif kepatuhan lingkungan (proyek hijau) menuju transformasi sistemik yang terintegrasi dalam model bisnis. Industri penerbangan merupakan salah satu sektor yang menghadapi tekanan tersebut secara akut karena karakteristik operasionalnya yang padat energi dan padat modal. Makalah ini bertujuan menganalisis sejauh mana PT Batik Air Indonesia, sebagai bagian dari Lion Air Group yang menguasai lebih dari separuh pangsa pasar penerbangan domestik Indonesia, telah bertransformasi dari pendekatan proyek hijau yang parsial menuju inovasi berkelanjutan yang sistemik. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif berbasis data sekunder serta kerangka teoretis kepemimpinan regeneratif (regenerative leadership), makalah ini merumuskan model konseptual Regenerative Aviation Leadership Framework (RALF) yang mengintegrasikan kesadaran sistemik, kolaborasi multi-pemangku kepentingan, indikator keberlanjutan terukur, dan orientasi regeneratif melampaui net-zero. Temuan menunjukkan bahwa komitmen Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada tahun 2030 dan modernisasi armada Batik Air/Lion Air Group masih berada pada tahap proyek hijau yang bersifat inkremental, belum menjadi transformasi sistemik yang melibatkan seluruh rantai nilai dan didukung oleh gaya kepemimpinan regeneratif. Makalah ini merekomendasikan reorientasi strategi keberlanjutan dan pengembangan literasi sistem dalam kepemimpinan perusahaan, khususnya menjelang rencana penawaran umum perdana (IPO) Lion Air Group.