Fenomena water coning merupakan salah satu permasalahan pada reservoir minyak yang dapat menyebabkan peningkatan water cut dan penurunan produksi minyak. Oleh karena itu, diperlukan penentuan laju alir kritis (critical oil rate/Qc) untuk mengoptimalkan produksi dan mengurangi risiko terjadinya water coning. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju alir kritis pada Sumur SN-08 menggunakan metode Meyer-Gardner, Schols, dan Chaperon serta menentukan batas atas dan batas bawah laju alir kritis dengan mempertimbangkan ketidakpastian data reservoir menggunakan pendekatan probabilistik Monte Carlo sebanyak 1000 iterasi. Parameter yang digunakan meliputi jari-jari pengurasan (re), ketebalan lapisan minyak (h), jarak perforasi terhadap kontak minyak-air (hc), permeabilitas, viskositas minyak, dan perbedaan densitas fluida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Meyer-Gardner menghasilkan nilai Qc sebesar 4,00 STB/day (P10), 7,00 STB/day (P50), dan 10,64 STB/day (P90). Metode Schols menghasilkan nilai sebesar 2,82 STB/day (P10), 5,14 STB/day (P50), dan 7,67 STB/day (P90). Metode Chaperon menghasilkan nilai sebesar 223,01 STB/day (P10), 350,70 STB/day (P50), dan 523,79 STB/day (P90). Hasil analisis probabilistik menunjukkan bahwa P10 merepresentasikan batas bawah, P90 merepresentasikan batas atas, dan P50 merepresentasikan kondisi yang paling mungkin terjadi. Rentang laju produksi yang direkomendasikan berada pada interval P10–P90 dengan nilai P50 sebagai acuan operasi produksi.