Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penentuan Laju Alir Kritis untuk Mencegah Terjadinya Water Coning dengan Pendekatan Probabilistik Simulasi Monte Carlo: Studi Kasus Sumur "SN-08" di Lapangan "SGT" Siti Nurhalissa; Teddy Kurniawan; Nuruddin Kafy El-Ridlo
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 8 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i8.4266

Abstract

Fenomena water coning merupakan salah satu permasalahan pada reservoir minyak yang dapat menyebabkan peningkatan water cut dan penurunan produksi minyak. Oleh karena itu, diperlukan penentuan laju alir kritis (critical oil rate/Qc) untuk mengoptimalkan produksi dan mengurangi risiko terjadinya water coning. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan laju alir kritis pada Sumur SN-08 menggunakan metode Meyer-Gardner, Schols, dan Chaperon serta menentukan batas atas dan batas bawah laju alir kritis dengan mempertimbangkan ketidakpastian data reservoir menggunakan pendekatan probabilistik Monte Carlo sebanyak 1000 iterasi. Parameter yang digunakan meliputi jari-jari pengurasan (re), ketebalan lapisan minyak (h), jarak perforasi terhadap kontak minyak-air (hc), permeabilitas, viskositas minyak, dan perbedaan densitas fluida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Meyer-Gardner menghasilkan nilai Qc sebesar 4,00 STB/day (P10), 7,00 STB/day (P50), dan 10,64 STB/day (P90). Metode Schols menghasilkan nilai sebesar 2,82 STB/day (P10), 5,14 STB/day (P50), dan 7,67 STB/day (P90). Metode Chaperon menghasilkan nilai sebesar 223,01 STB/day (P10), 350,70 STB/day (P50), dan 523,79 STB/day (P90). Hasil analisis probabilistik menunjukkan bahwa P10 merepresentasikan batas bawah, P90 merepresentasikan batas atas, dan P50 merepresentasikan kondisi yang paling mungkin terjadi. Rentang laju produksi yang direkomendasikan berada pada interval P10–P90 dengan nilai P50 sebagai acuan operasi produksi.
Pengaruh Penambahan Tea Powder terhadap Sifat Rheology pada Lumpur Pemboran Berbasis Air Muh Ilham A Parumba; Rohima Sera Afifah; Teddy Kurniawan
Journal of Comprehensive Science Vol. 5 No. 8 (2026): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v5i8.4273

Abstract

Lumpur pemboran berbasis air (Water-Based Mud) merupakan fluida yang berperan penting dalam menjaga stabilitas lubang bor, mengangkut cutting, serta mengendalikan kehilangan filtrat selama proses pemboran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan Tea Powder terhadap sifat reologi dan filtration loss pada lumpur pemboran berbasis air serta menentukan konsentrasi optimum yang memberikan kinerja terbaik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan variasi konsentrasi Tea Powder sebesar 2 gr, 4 gr, 6 gr, dan 8 gr pada 350 ml lumpur dasar. Pengujian dilakukan berdasarkan standar API 13A yang meliputi mud weight, plastic viscosity (PV), yield point (YP), gel strength, pH, dan filtration loss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Tea Powder memengaruhi karakteristik lumpur pemboran berbasis air. Nilai mud weight, PV, YP, dan gel strength meningkat, sedangkan nilai pH menurun secara bertahap namun tetap berada pada kondisi basa sesuai standar API 13A. Nilai filtration loss menurun hingga mencapai 6,92 ml/30 menit pada penambahan 6 gr Tea Powder, kemudian meningkat menjadi 11,30 ml/30 menit pada konsentrasi 8 gr. Pada konsentrasi 6 gr diperoleh nilai mud weight sebesar 9,8 ppg, PV sebesar 31 cP, YP sebesar 43 lb/100 ft², gel strength 10 detik sebesar 26 lb/100 ft², gel strength 10 menit sebesar 37 lb/100 ft², dan pH sebesar 8,85. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan Tea Powder berpengaruh terhadap sifat reologi dan filtration loss lumpur pemboran berbasis air. Konsentrasi optimum diperoleh pada penambahan 6 gr Tea Powder karena memberikan keseimbangan terbaik antara peningkatan sifat reologi dan penurunan filtration loss.