Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Framing Of CNN International’s Narrative on the 2025 Gaza Ceasefire through Entman’s Theory Muhammad Syarif Hidayatullah; Muhammad Nur; Nur Latifatul Qalbi
Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra dan Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025): Alinea: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran
Publisher : Bale Literasi: Lembaga Riset, Pelatihan & Edukasi, Sosial, Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/alinea.v5i3.1925

Abstract

International media have extensively covered the ceasefire agreement reached between Hamas and Israel in October 2025, a critical juncture marked by both hope and profound uncertainty. This study examines how CNN International framed this agreement and the underlying context of the prolonged conflict. Using Robert Entman’s framing theory (Problem Definition, Causal Diagnosis, Moral Judgment, and Suggested Remedies) and a qualitative descriptive methodology, we analyze a news report and an analysis piece from CNN International on this topic. Data were collected through systematic reading and annotation, then analyzed using a thematic model aligned with Entman’s framework. The study reveals that CNN International consistently employed a narrative frame of “Celebration and Trepidation.” The media defined the core problem as the precarity of the truce and the high risk of failure due to structural uncertainties (disarmament, governance). The cause of the current success was attributed to US-led diplomacy, while the cause of the uncertainty was rooted in historical failures and the complexity of the political endgame. The media made a moral judgment through strategic empathy, balancing the joy of Israeli hostage families with the mass casualties in Gaza, and proposed solutions centered on logistical control and sustained US leadership for the transition and reconstruction phases. The implication of these findings for language studies is that discourse linguistics and critical discourse analysis (CDA) are effective tools for uncovering the strategic construction of balance and the subtle ideological biases in news texts. By analyzing narrative structure and contrasting emotional language, we demonstrate how language not only reports political realities but also shapes public perceptions of risk and governance in post-conflict scenarios.
Perlawanan Kultural Dalam Lagu Sawf Nabqa Hona: Identitas Palestina dalam Perspektif Dekolonisasi Poskolonial Frantz Fanon Bima Sakti; Muhamad Amin; Gufron Gufron; Muhammad Nur; Muhammad Syarif Hidayatullah
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.114993

Abstract

Musik telah menjadi instrumen penting yang tidak hanya mendukung narasi alternatif dalam melawan upaya sistematis terhadap resistensi kebudayaan. Fenomena ini dapat ditemukan dalam gerakan melawan kolonialisme Zionis yang bertujuan menghapus identitas budaya Palestina. Gerakan tersebut juga  berkontribusi dalam memperkuat solidaritas kolektif dan menyuarakan harapan akan pembebasan. Penelitian ini membahas resistensi budaya yang tertanam dalam konflik Palestina-Israel, dengan fokus pada lagu Sawf Nabqa Huna sebagai medium perlawanan simbolis dan identitas. Penelitian ini enggunakan metode kualitatif melalui kerangka analisis wacana kritis untuk mengkaji lirik lagu Sawf Nabqa Huna dalam konteks kondisi sosial�politik Palestina. Data primer meliputi: lirik lagu beserta terjemahannya, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akademik mengenai teori pascakolonial dan pemikiran Fanon. Analisis data dilakukan melalui model Miles dan Huberman yang mencakup seluruh tahapan, meliputi: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu tidak hanya bernilai estetis, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen dekolonisasi yang menegaskan identitas, martabat, dan pengalaman kolektif rakyat Palestina. Lebih lanjut, ekspresi musik dipahami sebagai ranah perjuangan multidimensional yang bersifat politis, epistemologis, kultural, dan spiritual, yang melampaui ranah militer. Oleh karena itu, musik memainkan peran strategis yang penting dalam menyuarakan narasi alternatif, memperkuat ketahanan kolektif, dan merekonstruksi identitas autentik masyarakat Palestina di bawah pendudukan saat ini.
Perlawanan Kultural Dalam Lagu Sawf Nabqa Hona: Identitas Palestina dalam Perspektif Dekolonisasi Poskolonial Frantz Fanon Bima Sakti; Muhamad Amin; Gufron Gufron; Muhammad Nur; Muhammad Syarif Hidayatullah
Jurnal Kawistara Vol 16, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/kawistara.114993

Abstract

Musik telah menjadi instrumen penting yang tidak hanya mendukung narasi alternatif dalam melawan upaya sistematis terhadap resistensi kebudayaan. Fenomena ini dapat ditemukan dalam gerakan melawan kolonialisme Zionis yang bertujuan menghapus identitas budaya Palestina. Gerakan tersebut juga  berkontribusi dalam memperkuat solidaritas kolektif dan menyuarakan harapan akan pembebasan. Penelitian ini membahas resistensi budaya yang tertanam dalam konflik Palestina-Israel, dengan fokus pada lagu Sawf Nabqa Huna sebagai medium perlawanan simbolis dan identitas. Penelitian ini enggunakan metode kualitatif melalui kerangka analisis wacana kritis untuk mengkaji lirik lagu Sawf Nabqa Huna dalam konteks kondisi sosial�politik Palestina. Data primer meliputi: lirik lagu beserta terjemahannya, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur akademik mengenai teori pascakolonial dan pemikiran Fanon. Analisis data dilakukan melalui model Miles dan Huberman yang mencakup seluruh tahapan, meliputi: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lagu tidak hanya bernilai estetis, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen dekolonisasi yang menegaskan identitas, martabat, dan pengalaman kolektif rakyat Palestina. Lebih lanjut, ekspresi musik dipahami sebagai ranah perjuangan multidimensional yang bersifat politis, epistemologis, kultural, dan spiritual, yang melampaui ranah militer. Oleh karena itu, musik memainkan peran strategis yang penting dalam menyuarakan narasi alternatif, memperkuat ketahanan kolektif, dan merekonstruksi identitas autentik masyarakat Palestina di bawah pendudukan saat ini.