Persediaan suku cadang alat berat merupakan aset operasional yang menentukan kelancaran aktivitas bongkar muat di perusahaan kepelabuhanan, namun kesenjangan antara standar PSAK 202 dan praktik operasional masih ditemukan, antara lain selisih pencatatan stok saat stock taking, riwayat stockout yang berkontribusi pada insiden kerusakan alat, kondisi overstock pasca-merger, serta belum optimalnya dukungan data stok real-time dari sistem ERP. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan metode pencatatan persediaan suku cadang alat berat pada PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 Cabang Bitung serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan PSAK 202. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, dengan data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi atas laporan persediaan, jurnal akuntansi, serta data SAP Material Management, yang kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles, Huberman, dan SaldaƱa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2019 perusahaan konsisten menerapkan metode pencatatan perpetual berbasis SAP, dengan biaya persediaan dihitung menggunakan metode rata-rata tertimbang, disertai pemisahan fungsi antara penerimaan, verifikasi, dan pencatatan, serta rekonsiliasi bulanan melalui stock opname berjenjang, meskipun kebijakan formal penurunan nilai persediaan belum terdokumentasi. Dengan demikian, praktik pencatatan persediaan perusahaan secara umum sejalan dengan prinsip normatif PSAK 202, walaupun masih terdapat celah pada aspek penilaian penurunan nilai persediaan.