Pendahuluan: Masa remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap perubahan perilaku gaya hidup, terutama pola konsumsi makanan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena peningkatan konsumsi makanan cepat saji dan minuman tinggi gula di kalangan remaja yang berdampak pada risiko penyakit tidak menular. Data pra-survei di Asrama Green Dormitory menunjukkan prevalensi konsumsi ayam goreng olahan sebesar 86,7%, kentang goreng 63,3%, mi instan 56,7%, serta minuman manis kemasan mencapai 70%. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran konsumsi makanan tidak sehat pada remaja di Asrama Green Dormitory Universitas Malahayati Bandar Lampung tahun 2025, meliputi indikator jenis, frekuensi, dan kategori tingkat konsumsi. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional terhadap 214 responden yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen kuesioner frekuensi makanan (Food Frequency Questionnaire) yang divalidasi untuk mengukur empat indikator utama: konsumsi makanan ultra-olahan, minuman tinggi gula, daging olahan, serta makanan tinggi lemak dan lemak jenuh. Hasil: Hasil analisa statistik deskriptif menunjukkan bahwa konsumsi makanan tidak sehat didominasi oleh makanan ultra-olahan dengan nilai rata-rata tertinggi (mean=9,94), diikuti daging olahan (mean=9,57), dan minuman tinggi gula (mean=9,38). Secara keseluruhan, mayoritas responden berada pada kategori konsumsi sedang sebanyak 92 orang (43,0%), diikuti kategori tinggi sebanyak 80 orang (37,4%), dan kategori rendah sebanyak 42 orang (19,6%). Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar remaja di asrama memiliki ketergantungan yang signifikan pada makanan praktis dengan densitas energi tinggi namun sangat rendah nutrisi esensial. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan asrama berisiko menjadi lingkungan obesogenik. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya intervensi berupa edukasi gizi secara masif dan kebijakan penyediaan akses makanan sehat di lingkungan asrama guna meminimalisir risiko akumulasi penyakit tidak menular bagi mahasiswa di masa depan.