Ach. Zakyah Al Fauzi
Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Transformasi Nutraceutical Jelly Candy Sisik Bandeng dan Bungga Rosella sebagai Potensi Antioksidan Alami Elly Purwati; Erna Fitriany; Fahmi Ardianti Purnawiranita; Ach. Zakyah Al Fauzi; Achmad Misbhakul Maulana; Lailatul Fitri Khalimatus Sya’diyah
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1219

Abstract

Pendahuluan: Penuaan dini merupakan kondisi degeneratif pada kulit yang terjadi akibat paparan radikal bebas, baik yang berasal dari proses metabolisme tubuh maupun faktor eksternal seperti radiasi ultraviolet dan polusi lingkungan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kandungan kolagen dan antioksidan dari kombinasi ekstrak limbah sisik ikan bandeng (Chanos chanos) dan bunga rosella (Hibiscus sabdariffa) yang diformulasikan dalam sediaan permen jelly sebagai intervensi anti-penuaan dini. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental dengan tiga formulasi, yaitu F1 (0%:0%), F2 (5%:2%), dan F3 (10%:3%). Ekstraksi kolagen dilakukan melalui pretreatment NaOH 0,05 M selama 8 jam dan hidrolisis menggunakan CH₃COOH 0,3 M selama 72 jam, sedangkan ekstrak bunga rosella diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% selama 72 jam. Evaluasi meliputi rendemen ekstrak, skrining fitokimia, uji protein, pengukuran pH, dan uji organoleptik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak protein sebesar 18% dan ekstrak rosella sebesar 20%. Skrining fitokimia mengonfirmasi adanya flavonoid, triterpenoid, alkaloid, saponin, dan tanin pada ekstrak rosella, sedangkan uji ninhidrin menunjukkan keberadaan gugus amino sebagai indikasi kandungan kolagen. Nilai pH seluruh formulasi berada pada rentang 5–7 dan memenuhi standar SNI 3547.2:2008. Berdasarkan uji organoleptik, formulasi F2 (5%:2%) menunjukkan tingkat penerimaan tertinggi pada aspek warna, tekstur, aroma, dan rasa. Simpulan: Formulasi F2 (5%:2%) merupakan formulasi optimal dengan karakteristik fisik, sensori, dan tingkat penerimaan panelis terbaik sehingga berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional anti-penuaan dini berbasis bahan alam.
Pola makan sebagai bagian dari terapi dislipidemia di pelayanan kefarmasian: studi kasus di Apotek Neo Yudefar Andri Priyoherianto; Ach. Zakyah Al Fauzi; Dita Salsabila Afandi; Fahmi Ardianti Purnawiranita
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1450

Abstract

Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang memerlukan penatalaksanaan komprehensif melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Pola makan berperan penting dalam menunjang efektivitas terapi penurun kolesterol, sementara ketepatan profil pengobatan turut menentukan keberhasilan terapi dalam konteks pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan dan profil pengobatan dislipidemia pada pasien di Apotek Neo Yudefar. Penelitian observasional non-eksperimental ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, dilaksanakan pada Januari–Maret 2025. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi pasien dislipidemia di Apotek Neo Yudefar. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, mencakup karakteristik responden, pola makan, dan profil pengobatan, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui analisis univariat. Sebagian besar responden menunjukkan pola makan yang kurang baik, ditandai dengan tingginya konsumsi makanan digoreng, berlemak, dan jeroan, meskipun sebagian responden telah mengonsumsi sayur, buah, dan air putih dalam jumlah cukup. Pada profil pengobatan, terapi farmakologis didominasi oleh golongan statin dengan konsistensi waktu dan cara konsumsi yang relatif baik, sejalan dengan karakteristik farmakokinetik obat; namun demikian, sebagian responden masih mengonsumsi obat tanpa resep dokter, mengalami efek samping, atau tidak konsisten dalam waktu konsumsi obat. Pengendalian dislipidemia pada penelitian ini belum sepenuhnya optimal, karena penerapan pola makan sehat sebagai bagian dari terapi nonfarmakologis masih lemah meskipun profil pengobatan farmakologis relatif tepat. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan edukasi pasien berbasis pelayanan kefarmasian untuk mengoptimalkan keberhasilan terapi dislipidemia secara menyeluruh.