Di Indonesia prevalensi ISK berkisar antara 5-15 % dengan jumlah penderita mencapai 90-100 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Bakteri menjadi penyebab ISK adalah Escherichia coli, Klebsiella, dan Staphylococcus sp. Pengobatan utama ISK adalah antibiotik, masalahnya sudah terjadi resistensi bakteri. Pemeriksaan laboratorium diawali dengan urinalysis dan menjadi petunjuk awal adanya ISK. Berdasarkan hal diatas, adalah bagaimana hubungan karakteristik urine dan pola resistensi bakteri ISK di beberapa rumah sakit di Kota Manado. Jenis penelitian studi cross-sectional bertujuan mengetahui karakteristik urine dan pola resistensi bakteri penyebab ISK di beberapa rumah sakit Kota Manado pada bulan Januari-Juni 2024. Karakteristik utama urine ISK adalah warna kuning cerah, bau amoniak, urine keruh, positif bakteri, pH 5.0 - 6.0, berat jenis 1,005 - 1,030, positif protein, eritrosit, dan leukosit esterase. Pola resistensi bakteri penyebab ISK pada penelitian ini adalah bakteri E.coli telah resisten terhadap Ampicillin (67%), ceftriaxone (63%), dan cefoxitin (50%); Enterobacter aerogenes dan Pseudomonas aeruginosa telah resisten terhadap Ampicillin (59%) dan cefoxitin (63%); Klebsiella pneumoniae telah resisten terhadap Ceftriaxone (50%) dan Staphylococcus aureus telah resisten terhadap Ampicillin (50%), Clindamycin (54%). Terdapat hubungan karakteristik warna urine, leukosit esterase dan jenis bakteri, dan tidak terdapat hubungan kejernihan urine, bau urine, pH urine, protein urine, eritrosit dalam urine dan berat jenis urine penderita ISK dengan pola resistensi antibiotika.