Andi Tenrileleang
STAI DDI MAKASSAR

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Musyawarah dan Relevansinya bagi Demokrasi di Indonesia (Studi Analisis terhadap Q.S. asy-Syūrā/42: 38 dan Q.S. Āli-Imrān/3: 159) Andi Tenrileleang; Dahlia; Hasyim Haddade; Muh. Irham
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 7 No. 2 (2026): Juni 2026
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53649/at-tahfidz.v7i2.2091

Abstract

Musyawarah merupakan prinsip fundamental Islam yang berakar dari perintah langsung Allah swt demi mencapai keputusan yang berkeadilan dan penuh maslahat. Musyawarah bukan sekadar anjuran moral, melainkan instrumen krusial dan pilar vital yang wajib diimplementasikan umat Islam dalam seluruh aspek kehidupan demi menjaga stabilitas dan keberlangsungan tatanan sosial. Penelitian ini secara mendalam mengkaji hakikat musyawarah dalam Al-Qur’an, menganalisis pemikiran para mufassir secara komparatif, serta menelaah implementasinya sebagai bagian dari konteks demokrasi modern Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan studi kepustakaan kualitatif, penelitian ini melakukan penafsiran tematik terhadap Q.S. asy-Syūrā/42: 38 dan Q.S. Ā li-Imrān/3: 159 untuk mengeksplorasi relevansi doktrinal dan praktisnya. Hasil penelitian menegaskan bahwa Al-Qur’an menetapkan musyawarah sebagai identitas utama orang beriman, yang memberikan landasan teologis kokoh bagi mekanisme pengambilan keputusan kolektif dalam kehidupan umat. Para mufassir secara konsensus menyepakati bahwa musyawarah merupakan instrumen yang menjaga kemaslahatan bersama. Implementasi nilai ini merupakan wujud nyata dari prinsip keadilan, kesetaraan derajat, dan kebebasan berpendapat di tengah masyarakat yang heterogen. Lebih jauh, nilai-nilai syariat ini terintegrasi secara harmonis dalam konstitusi Indonesia dan menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa serta bernegara melalui sila keempat Pancasila. Dengan demikian, musyawarah berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan praktik kenegaraan yang demokratis, memastikan bahwa setiap pengambilan keputusan mencerminkan kearifan kolektif dan tanggung jawab teologis yang mendalam bagi seluruh warga negara.