Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The The Ideological Dialectic Between Islam and the State in the Formulation of Indonesia’s State Principles: From Constitutional Compromise to Public Ethics: From Constitutional Compromise to Public Ethics Joni Harnedi; Danil Mahmud Chaniago; Rahmad Tri Hadi
Edusoshum : Journal of Islamic Education and Social Humanities Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Ikatan Cendikiawan Ilmu Pendidikan Islam (ICIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52366/edusoshum.v6i2.553

Abstract

The linkage between Islam and the state in Indonesia has been analyzed in terms of history, constitution, and politics. Nonetheless, prior research has considered BPUPKI,  Piagam Jakarta (Jakarta Charter), and Constituent Assembly discussions as individual constitutional issues without understanding their interrelated ideologies. Therefore, this paper aims to explore the ideological negotiation between Islam and nationalism in the construction of Indonesia's state foundation through qualitative historical methodology of document analysis and political philosophy interpretation. Primary data includes BPUPKI and PPKI's discussion, Piagam Jakarta, and Constituent Assembly discussions with the help of secondary sources. The results demonstrate that the construction of the state foundation in Indonesia was an ideology-mediated process but not a constitutional one. Piagam Jakarta is the manifestation of constitutional compromise, whereas Constituent Assembly discussion represents the continuing reinterpretation of the relation between religion and the state in a pluralistic democracy. The author suggests the model of Indonesian Ideological Mediation that proves that the relationship between Islam and the state develops as a result of constitutional compromise, ideological mediation, and ethical transformation. Instead of instituting Islam as the basis of the state formally, the suggested model treats Islamic ideology as public ethics incorporated into Pancasila and constitutional democracy.  
Ma’rifatullah Perspektif Abul Mugits al-Husain bin Mansur al-Hallaj Kholilurrahman; Joni Harnedi; Muchamad Toif Chasani
ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research Vol 2 No 2 (2024): ISME : Journal of Islamic Studies and Multidisciplinary Research
Publisher : Yayasan Dharma Lentera Khatulistiwa (MALEWA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61683/isme.vol22.2024.41-49

Abstract

Ma’rifatullah adalah pengenalan mendalam seorang hamba terhadap Tuhannya, yang merupakan bagian dari kajian tasawuf. Tasawuf sendiri berfokus pada pembersihan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah melalui proses spiritual. Al-Qur’an, seperti yang tercantum dalam Surah Al-‘Alaq, menekankan pentingnya mengenal Allah melalui pengetahuan dan pembelajaran. Dalam tasawuf, ma’rifatullah adalah pemahaman yang mendalam tentang Allah, yang dicapai melalui dzikir dan pensucian jiwa. Kajian ini sangat urgen sekali, untuk mengembalikan marwah manusia yang seharusnya. Baik dari cara mengenal Tuhan, beragama yang baik, dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif  yang berfokus pada analisis data secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Ajaran sufi terkenal, “al-Hallaj”, mengemukakan pandangan kontroversial tentang ma’rifat, yang termasuk konsep al-hulul (kehadiran Tuhan dalam diri manusia). Ia berpendapat bahwa pengetahuan tentang Allah tidak bisa dicapai hanya dengan akal atau ibadah ritual, tetapi melalui pengalaman spiritual langsung dan penghilangan ego. Pemikiran al-Hallaj tentang ma’rifatullah, meskipun menuai kritik, memberi pandangan mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan yang melampaui pengetahuan umum.