Endah Nawangsih
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung, Indonesia

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Sensation Seeking sebagai Prediktor Adiksi Game Online MOBA pada Mahasiswa Bandung Thariq Ahaddhia; Endah Nawangsih
Jurnal Riset Psikologi Volume 6, No. 1 Juli 2026, Jurnal Riset Psikologi (JRP)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrp.v6i1.10356

Abstract

Abstract. This study aimed to examine the effect of sensation seeking on online game addiction among university students who play Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) games in Bandung. A quantitative causal research design was employed, involving 415 students selected through convenience sampling. Data were collected using the Indonesian version of the Brief Sensation Seeking Scale and the Gaming Addiction Scale, both employing Likert-type responses, and analyzed using multiple linear regression. The results indicated that participants generally exhibited relatively high levels of sensation seeking, with varying effects across its dimensions. Disinhibition emerged as the strongest positive predictor of online game addiction (β = 0.125), followed by thrill and adventure seeking (β = 0.063). In contrast, Experience Seeking and boredom susceptibility showed negative effects on online game addiction (β = −0.014 and β = −0.037). These findings suggest that online game addiction among university students is primarily influenced by sensation seeking dimensions related to impulsivity and risk-taking, whereas broader exploratory tendencies may function as protective factors. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sensation seeking terhadap adiksi game online genre Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) pada mahasiswa di Kota Bandung. Pendekatan kuantitatif dengan desain kausalitas digunakan, melibatkan 415 mahasiswa yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data dikumpulkan menggunakan Brief Sensation Seeking Scale versi Indonesia dan Gaming Addiction Scale berbentuk skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat sensation seeking responden berada pada kategori relatif tinggi, dengan pengaruh dimensi yang tidak seragam terhadap adiksi game online. Dimensi disinhibition menjadi prediktor paling kuat yang meningkatkan adiksi game online (β = 0,125), diikuti oleh thrill and adventure seeking (β = 0,063). Sebaliknya, Experience Seeking dan boredom susceptibility menunjukkan pengaruh negatif terhadap adiksi game online (β = −0,014 dan β = −0,037). Temuan ini menunjukkan bahwa adiksi game online pada mahasiswa terutama dipengaruhi oleh aspek sensation seeking yang berkaitan dengan impulsivitas dan pengambilan risiko, sementara dorongan eksploratif yang lebih adaptif berpotensi berperan sebagai faktor protektif.
Pengaruh Keyakinan Diri Mencari Bantuan terhadap Professional Help Seeking Behavior pada Mahasiswa Aulia Salsabila Maulana; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science 985-994
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.24249

Abstract

Abstract. College students are in the emerging adulthood phase, during which they are vulnerable to various stresses and mental health disorders. The availability of services at universities is not yet sufficient to help students and encourage them to seek help; therefore, internal factors are needed to strengthen their readiness. This study aims to examine the influence of self-efficacy for seeking help on professional help-seeking behavior. This study uses a non-experimental quantitative design with a causal approach. The sample consisted of 391 active undergraduate students aged 18–25 in Bandung, selected using convenience sampling. Self-efficacy for seeking help was measured using the Self-Efficacy for Seeking Mental Health Care (SE-SMHC) scale, while professional help-seeking behavior was assessed using the Help-Seeking Behavior scale. The results show that both dimensions of self-efficacy for seeking help collectively have a significant effect (= 8.4% & p<.001). However, when analyzed partially, only the Confidence in Coping dimension had a significant effect (p=.003), while Confidence in Knowledge did not (p=.108). These findings indicate that confidence in coping with emotional and social consequences is more decisive. Therefore, it is recommended to provide interventions that build students’ courage to face emotional and social consequences. Abstrak. Mahasiswa berada pada fase emerging adulthood yang rentan terhadap berbagai tekanan serta gangguan kesehatan mental. Ketersediaan layanan di perguruan tinggi belum cukup untuk bisa membantu mahasiswa dan mendorong mereka untuk mengakses, maka diperlukan faktor internal diri yang memperkuat kesiapan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh keyakinan diri mencari bantuan terhadap profesional help seeking behavior Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan kausalitas. Sampel berjumlah 391 mahasiswa aktif program sarjana berusia 18-25 tahun di Kota Bandung yang diambil menggunakan teknik convenience sampling. Keyakinan diri mencari bantuan diukur menggunakan Self Efficacy for Seeking Mental Health Care (SE-SMHC), sedangkan Profesional Help Seeking Behavior menggunakan alat ukur pengembangan Help Seeking Behavior. Hasil menunjukan kedua dimensi keyakinan diri mencari bantuan secara bersama-sama berpengaruh signifikan (R²= 8.4% & p<.001). Namun, secara parsial hanya dimensi Confidence in Coping yang berpengaruh signifikan (p=.003) sedangkan Confidence in Knowledge tidak (p=.108). Temuan ini mengindikasikan bahwa keyakinan menghadapi konsekuensi emosional dan sosial lebih menentukan. Maka merekomendasikan untuk dapat memberikan intervensi yang membangun keberanian mahasiswa untuk menghadapi konsekuensi emosional dan sosial.
Peran Mindfulness dalam Memoderasi Hubungan Social Comparison dengan Stres Digital pada Pengguna Aktif TikTok: Studi Literatur Zahra Alfiyya Nasywa; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science 1255-1264
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25095

Abstract

Abstract. Active TikTok users increasingly display digital stress associated with intensive exposure to other users' curated achievement and lifestyle content, a pattern closely linked to social comparison. This article synthesizes the theoretical and empirical relevance of social comparison, digital stress, and the potential moderating role of mindfulness among TikTok-using emerging adults through a literature review. Digital stress is conceptualized as a five-dimensional condition (availability stress, approval anxiety, fear of missing out, connection overload, online vigilance) with identifiable antecedents and consequences. Social comparison is examined through its ability- and opinion-comparison dimensions, with upward social comparison dominant on algorithm-driven platforms such as TikTok and linked to negative self-evaluation. Mindfulness is then discussed as a multidimensional self-regulatory capacity that may weaken this relationship through cognitive appraisal, antecedent-focused emotion regulation, and decentering. Although no study has directly tested mindfulness as a moderator of the social comparison-digital stress link among TikTok users, converging evidence from smartphone and social media research shows mindfulness consistently weakens negative digital impacts. The review concludes that mindfulness is theoretically coherent and empirically plausible as a protective mechanism, and proposes moderated regression analysis for future empirical testing. Abstrak. Pengguna aktif TikTok semakin menunjukkan tanda-tanda stres digital yang berkaitan dengan tingginya paparan terhadap konten pencapaian dan gaya hidup pengguna lain yang telah dikurasi, sebuah pola yang berasosiasi erat dengan social comparison. Artikel ini mensintesis relevansi teoretis dan empiris antara social comparison, stres digital, dan potensi peran moderasi mindfulness pada dewasa awal pengguna TikTok melalui kajian literatur. Stres digital dikonseptualisasikan sebagai kondisi lima dimensi (availability stress, approval anxiety, fear of missing out, connection overload, online vigilance) beserta faktor dan dampaknya. Social comparison dikaji melalui dimensi ability comparison dan opinion comparison, dengan upward social comparison sebagai pola dominan pada platform berbasis algoritma seperti TikTok dan berkaitan dengan evaluasi diri negatif. Mindfulness selanjutnya dibahas sebagai kapasitas regulasi diri multidimensional yang berpotensi melemahkan hubungan tersebut melalui cognitive appraisal, regulasi emosi yang bersifat antecedent-focused, dan decentering. Meskipun belum ada penelitian yang secara langsung menguji mindfulness sebagai moderator hubungan social comparison dan stres digital pada pengguna TikTok, bukti dari penelitian smartphone dan media sosial menunjukkan mindfulness secara konsisten melemahkan dampak negatif digital. Kajian ini menyimpulkan bahwa mindfulness koheren secara teoretis dan plausibel secara empiris sebagai mekanisme protektif, serta mengusulkan analisis regresi moderasi untuk pengujian empiris lanjutan.
Hubungan Fear of Negative Evaluation dengan False Self-Presentation pada Pengguna Instagram Aulya Larashanda Hanyfan; Endah Nawangsih
Bandung Conference Series: Psychology Science 1321-1328
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsps.v6i2.25537

Abstract

Abstract. The rapid growth of social media has positioned Instagram as a crucial space for Generation Z to build personal branding and self-expression, yet the platform has also become an arena of social evaluation that pushes users toward image manipulation for the sake of positive validation. This study examines the relationship between fear of negative evaluation and false self-presentation among Generation Z Instagram users. Using a quantitative correlational design, 391 active Instagram users aged 18–24 years were recruited through convenience sampling. Data were collected using the Brief Fear of negative evaluation scale adapted by Hernawati (2025) and the Self-Presentation on Facebook Questionnaire adapted by Tama (2019) and modified for the Instagram context. Data were analyzed using Spearman correlation with JASP software. The results revealed a significant positive correlation between the two variables (rho = 0.626; p < 0.001), indicating that the higher an individual's fear of negative evaluation, the greater their tendency toward inauthentic self-presentation on Instagram Abstrak. Pesatnya pertumbuhan media sosial menempatkan Instagram sebagai salah satu wadah krusial bagi Generasi Z dalam membangun personal branding dan mengekspresikan diri. Namun, fungsi platform ini telah bergeser tidak sekadar menjadi media komunikasi, melainkan juga wadah penilaian sosial yang memicu penggunanya untuk memanipulasi penampilan demi mendapat validasi positif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara fear of negative evaluation dan false self-presentation di kalangan pengguna Instagram Generasi Z. Melalui pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, penelitian ini melibatkan 391 responden aktif Instagram berusia 18–24 tahun yang dijaring menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui instrumen Brief Fear of negative evaluation hasil adaptasi Hernawati (2025) serta Self-Presentation on Facebook Questionnaire (Tama, 2019) yang telah dimodifikasi untuk konteks false self-presentation pada Instagram. Berdasarkan analisis data menggunakan uji korelasi Spearman dengan bantuan software JASP, ditemukan korelasi positif yang signifikan antara kedua variabel (rho = 0,626; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat fear of negative evaluation pada individu, maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk menampilkan diri secara tidak autentik di Instagram