Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Di Nan Tangah Inspired by The Antaan Baka Tradition in Paninggahan Nagari Solok Regency West Sumatra Dermita Kumala Sari; Adjuoktoza Rovylendes; Syahril; Dony Osmond
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 5 No. 1 (2026): Vol. 5 No. 1 2026
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v5i1.1022

Abstract

The dance work “Di Nan Tangah”  is a contemporary dramatic dance piece inspired by the Antaan baka tradition in Nagari Paninggahan, Solok Regency, West Sumatra. The creation of this dance piece aims to reflect the socio-cultural conflicts that arise from differing views between traditional values, religious understanding, and modern lifestyles. The creation process for “Di Nan Tangah“ utilizes the creative method according to Alma M. Hawkins, which includes data collection and field observation, exploration, improvisation, formation, and evaluation. The movement elements are derived from Minangkabau silat movements and daily activities, adapted in a contemporary way. This work is supported by the use of minimalist digital music, dramatic lighting, simple makeup and costume, and pandan mat props as symbols of the Antaan baka tradition.  
KARYA TARI RAYUAN SANG BATU INTERPRETASI MITOS SISYPHUS SEBAGAI REFLEKSI PSIKOLOGI KORUPSI DI INDONESIA Laila Rahmah Tusa’diah; Wardi Metro; Yan Stevenson; Syahril
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 4 No. 2 (2026): July - December 2026
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v4i2.618

Abstract

Karya Tari Rayuan Sang Batu merupakan karya tari kontemporer yang terinspirasi dari mitos sisyphus dalam mitologi Yunani Kuno. Karya ini berangkat dari kegelisahan terhadap kondisi manusia yang terjebak dalam siklus hasrat, ambisi dan keinginan untuk meng      uasai keadaan. Dalam karya ini, batu tidak hanya di maknai sebagai beban hukuman, tetapi juga sebagai simbol godaan, kekuasaan dan kenikmatan yang terus di kejar meskipun membawa penderitaan. Interpretasi tersebut di kaitkan dengan fenomena korupsi di Indonesia melalui perspektif psikologi korupsi, yaitu kondisi ketika manusia terus mengulangi penyalah gunaan kekuasaan karena dorongan hasrat dan kepentingan pribadi Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan tari kontemporer dengan eksplorasi gerak yang menekankan pada tubuh sebagai representasi kondisi psikologi manusia. Bentuk gerak di kembangkan melalui gerakan repetitif, tekanan tubuh, dorongan dan ketegangan untuk menggambarkan hubungan manusia dengan hasrat yang memikat dirinya sendiri. Karya ini tidak menghadirkan korupsi secara langsung ,tetapi lebih menekankan pada refleksi batin manusia yang terjebak dalam siklus keinginan, hasrat ,kekuasaan dan keterikatan terhadap ambisi tanpa akhir.