Tiopan Sipahutar
Program Studi Kesehatan Masyarakat, URINDO, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Spasial Minimum Acceptable Diet (MAD) pada Anak Usia 6–23 Bulan dan Keterkaitannya dengan Prevalensi Stunting di Indonesia Inas Farida; Rico Kurniawan; Tiopan Sipahutar
Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF) Vol. 6 No. 1 (2025): Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF)
Publisher : Faculty of Medicine and Health Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/mjnf.6.1.65-79

Abstract

Latar Belakang: Minimum Acceptable Diet (MAD) merupakan indikator WHO yang menggambarkan kecukupan praktik pemberian makan anak usia 6–23 bulan dan berperan terhadap pertumbuhan anak. Beberapa penelitian di negara lain menunjukkan hubungan antara rendahnya capaian MAD dan stunting, namun kajian spasial terkait kedua indikator tersebut di Indonesia masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial capaian MAD pada anak usia 6–23 bulan di Indonesia serta keterkaitannya dengan prevalensi stunting antar provinsi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan ekologi menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 pada 36 provinsi di Indonesia. Analisis spasial dilakukan menggunakan Global Moran’s I dan bivariate Local Indicator of Spatial Association (LISA). Hasil: Terdapat ketimpangan spasial capaian MAD antarprovinsi di Indonesia. Uji Global Moran’s I menunjukkan autokorelasi spasial positif yang signifikan pada prevalensi stunting (I = 0,31; p < 0,001). Analisis bivariate LISA mengidentifikasi enam provinsi dengan klaster spasial signifikan dimana wilayah dengan capaian MAD rendah cenderung berada pada lingkungan dengan prevalensi stunting tinggi. Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan spasial antara capaian MAD dan prevalensi stunting di Indonesia. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya menggunakan analisis konvensional, penelitian ini menggunakan pendekatan spasial untuk mengidentifikasi wilayah prioritas intervensi gizi berbasis regional. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan intervensi berbasis wilayah dengan fokus pada peningkatan praktik pemberian makan anak di daerah prioritas.