Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Menguatkan Agroforestri Kopi Indonesia: Strategi Kebijakan Menghadapi Risiko Iklim dan Fragmentasi Regulasi Anisa Dwi Utami; Anna Fariyanti; Yusalina; Yanti Nuraeni Muflikh; Indah Maharani; Vanesha Miranda
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 8 No. 1 (2026): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0801.1577-1582

Abstract

Pengembangan agroforestri kopi penting sebagai respons terhadap meningkatnya risiko iklim, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan organisme pengganggu tanaman yang menurunkan produktivitas serta pendapatan petani. Sistem agroforestri tidak hanya meningkatkan efisiensi usaha, tetapi juga berfungsi sebagai strategi mitigasi risiko dengan menyediakan sumber pendapatan alternatif ketika produktivitas kopi menurun. Agroforestri sejalan dengan agenda pembangunan jangka panjang Indonesia, khususnya pengurangan emisi, restorasi lahan terdegradasi, dan peningkatan kesejahteraan petani kecil. Namun, adopsi agroforestri kopi masih menghadapi hambatan struktural dan kelembagaan, seperti fragmentasi regulasi antarsektor, keterbatasan akses teknologi, serta terbatasnya model sistem yang teruji dan siap direplikasi. Kebijakan pengembangan kopi di bawah Kementerian Pertanian belum secara eksplisit mengintegrasikan agroforestri, sementara praktik agroforestri lebih berkembang dalam kerangka kebijakan kehutanan. Di tingkat perencanaan, Bappenas telah mendorong pembangunan berkelanjutan, namun belum secara spesifik mengarusutamakan agroforestri kopi. Kondisi ini menyebabkan tidak adanya integrasi kebijakan yang efektif dari hulu hingga hilir. Maka dari itu, penyusunan kebijakan pengembangan agroforestri kopi yang berkelanjutan menjadi penting. Policy brief ini menawarkan rekomendasi kebijakan, yaitu integrasi kebijakan antarsektor, penguatan dukungan teknis di tingkat petani, penguatan kelembagaan dan akses pasar, penerapan sistem insentif bagi petani yang menerapkan agroforestri kopi, dan penyediaan skema pembiayaan  khusus untuk agroforestri kopi. Tanpa integrasi kebijakan, agroforestri kopi akan tetap menjadi potensi yang belum termanfaatkan secara optimal.