Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah masih cenderung bersifat abstrak dan kurang mengaitkan konsep sains dengan budaya lokal peserta didik. Hal ini menyebabkan rendahnya pemahaman konsep serta minimnya apresiasi terhadap kearifan lokal. Salah satu potensi budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar adalah tradisi fermentasi cincalok pada masyarakat Melayu pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembuatan cincalok berdasarkan pengetahuan masyarakat, mengidentifikasi konsep IPA yang terkandung di dalamnya, serta mengkaji potensinya sebagai sumber pembelajaran IPA berbasis etnosains pada materi bioteknologi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan dua narasumber masyarakat Melayu pesisir, observasi langsung proses pembuatan cincalok, dan studi literatur. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi cincalok melibatkan prinsip-prinsip sains, seperti aktivitas mikroorganisme, osmosis, penurunan pH, dan kondisi anaerob. Praktik tradisional masyarakat terbukti selaras dengan konsep mikrobiologi, kimia pangan, dan bioteknologi konvensional meskipun dilakukan secara sederhana. Temuan ini juga menunjukkan bahwa cincalok berpotensi diintegrasikan sebagai sumber pembelajaran IPA berbasis etnosains dalam bentuk bahan ajar kontekstual khususnya pada topik bioteknologi. Oleh karena itu, cincalok memiliki potensi yang kuat sebagai sumber belajar yang bermakna dan kontekstual dalam pendidikan sains terutama pada materi bioteknologi dalam Kurikulum Merdeka.