Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN LEVEL SARI WORTEL (Daucus carota) DALAM PENGENCER MIII TERHADAP KUALITAS SEMEN CAIR BABI LANDRACE: Effect of Additional Levels of Carrot (Daucus carota) Juice Level in MIII Diluent on the Quality of Liquid Landrace Boars Semen Cornelius Setyawan Sufardi; Thomas Mata Hine; Petrus Kune
Wahana Peternakan Vol. 10 No. 2 (2026): Wahana Peternakan
Publisher : Faculty of Animal Science, University of Tulang Bawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v10i2.1698

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari wortel dalam pengencer Mulberry III (MIII)–kuning telur (KT) terhadap kualitas semen cair babi Landrace. Penelitian menggunakan semen segar dari babi jantan yang telah mencapai dewasa kelamin dengan umur 2,5–3 tahun dan dalam kondisi sehat. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas P0 (MIII–kuning telur), P1 (MIII–kuning telur + 0,5% sari wortel), P2 (MIII–kuning telur + 1% sari wortel), P3 (MIII–kuning telur + 1,5% sari wortel), dan P4 (MIII–kuning telur + 2% sari wortel). Semen yang telah diencerkan sesuai perlakuan disimpan dalam wadah styrofoam pada suhu 18–20°C. Evaluasi kualitas semen dilakukan setelah pengenceran dan setiap 8 jam selama penyimpanan hingga motilitas mencapai batas minimal 40%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hingga penyimpanan 16 jam, motilitas dan viabilitas spermatozoa pada seluruh perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05). Namun demikian, pada penyimpanan 32 jam, perlakuan P3 menunjukkan nilai motilitas dan viabilitas tertinggi, yaitu masing-masing sebesar 46,25% dan 53,01%, yang berbeda nyata dibandingkan P0 (P<0,05), tetapi tidak berbeda nyata dengan P4 (P>0,05). Abnormalitas spermatozoa tidak menunjukkan perbedaan nyata antar perlakuan (P>0,05). Daya tahan hidup spermatozoa terbaik diperoleh pada perlakuan P3, yaitu 35,55 jam, yang berbeda nyata dibandingkan P0, P1, dan P2 (P<0,05), namun tidak berbeda nyata dengan P4 (P>0,05). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa penambahan sari wortel sebesar 1,5% ke dalam pengencer MIII–kuning telur mampu mempertahankan kualitas semen cair babi Landrace selama penyimpanan.   Kata kunci: sari wortel, mulberry III, kuning telur, spermatozoa babi Landrace
Kualitas Semen Beku Babi Landrace dalam Pengencer Vitasem dengan Level Kuning Telur yang Berbeda Arinda E. Nana; Petrus Kune; Agustinus Ridlof Riwu; Thomas M. Hine
Jurnal Sains Peternakan Vol 13 No 2 (2025): Jurnal Sains Peternakan Vol. 13 No. 2
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jsp.v13i2.12177

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji kualitas semen beku babi landrace dalam pengencer vitasem dengan level kuning telur yang berbeda. Rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap. Dengan lima perlakuan dan empat ulangan, dengan perlakuan terdiri atas (P1) vitasem + 5% kuning telur, (P2) vitasem + 10% kuning telur, (P3) vitasem + 15% kuning telur, (P4) vitasem + 20% kuning telur, (P5) vitasem + 25% kuning telur. Semen diencerkan, dikemas dalam straw 0,5 ml, lalu diekuilibrasi pada 3-5℃ selama dua jam sebelum dibekukan di atas nitrogen cair         (-110℃) selama 10 menit. Selanjutnya, straw dicelupkan ke dalam nitrogen cair dan disimpan dalam wadah khusus (goblet, kanister, kontainer) pada -196℃.Variabel yang diamati meliputi motilitas, viabilitas, abnormalitas, dan recovery rate spermatozoa. Data dianalisis dengan ANOVA dan dilanjutkan DMRT. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan tidak signifikan pada tahap pra-pembekuan, namun signifikan setelah thawing (P<0,05). Perlakuan P5 menghasilkan rata-rata tertinggi untuk motilitas (32,38%), viabilitas (58,51%), dan recovery rate (40,54%), sedangkan abnormalitas terendah (10,27%) ada pada P3. Penelitian ini menyimpulkan bahwa level kuning telur yang berbeda efektif mempertahankan motilitas spermatozoa pasca-thawing, dengan P5 memberikan hasil terbaik dengan motilitas ≥30%