Nadila Wahyuningtyas
Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Strategi Pemerintah Desa Dalam Percepatan Penurunan Stunting di Desa Jangkrikan Kecamatan Kepil Kabupaten Wonosobo Nadila Wahyuningtyas; Erni Saharuddin
TheJournalish: Social and Government Vol. 7 No. 3 (2026): Social and Government
Publisher : CV The Journal Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55314/tsg.v7i3.1116

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemerintah desa dalam percepatan penurunan stunting di Desa Jangkrikan, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo. Prevalensi stunting di desa tersebut tercatat sebesar 25,5% per Desember 2024, jauh melampaui target kabupaten sebesar 14,5%. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan informan yang dipilih secara purposif, meliputi kepala desa, sekretaris desa, bidan desa, kader posyandu, ahli gizi Puskesmas Kepil I, serta ibu balita stunting dan tidak stunting. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Analisis kerangka menggunakan teori strategi Kotten yang mencakup tiga dimensi, yaitu strategi organisasi, strategi pendukung sumber daya, dan strategi program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah desa telah membentuk Tim Penanganan dan Penurunan Stunting (TPPS) lintas sektor serta menyelenggarakan forum rembug stunting sebagai wadah koordinasi partisipatif. Dari sisi sumber daya, desa mengalokasikan dana untuk program Posyandu, Pos Kesehatan Desa, dan Bina Keluarga Balita. Berbagai program intervensi juga telah dilaksanakan, di antaranya pemberian makanan tambahan berbasis protein hewani, edukasi PMBA, kelas balita stunting, serta pemberian tablet darah bagi remaja putri dan ibu hamil. Namun demikian, implementasi strategi belum sepenuhnya optimal akibat lemahnya koordinasi lintas sektor, keterbatasan kapasitas aparat desa, serta rendahnya perubahan perilaku gizi dan pola asuh keluarga. Diperlukan penguatan sinergi antarpemangku kepentingan, peningkatan kapasitas kader, dan program edukasi perubahan perilaku yang lebih intensif dan berkelanjutan.