Pendahuluan: Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan, dan berperan penting dalam peningkatan risiko penyakit kardiovaskular serta diabetes melitus tipe 2. Resistensi insulin menjadi patofisiologi utama sindrom metabolik, namun metode pengukurannya yang berbasis insulin bersifat mahal dan kurang praktis untuk skrining populasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan diagnostik METS-IR, TyG index, dan rasio TG/HDL dalam mendeteksi sindrom metabolik pada populasi dewasa di Jakarta. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan pada Agustus 2024 – Maret 2025 di tiga kelurahan di Jakarta dengan melibatkan 205 responden dewasa berusia ≥18 tahun. Profil lipid diukur menggunakan panel lipid NESCO dan gula darah puasa menggunakan strip For-A. Sindrom metabolik ditetapkan berdasarkan kriteria NHLBI/AHA. Analisis diagnostik dilakukan menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) dan Area Under the Curve (AUC). Hasil: Prevalensi sindrom metabolik sebesar 45,4%. TyG index menunjukkan nilai AUC tertinggi (0,918), diikuti rasio TG/HDL (0,889) dan METS-IR (0,851), seluruhnya signifikan secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Ketiga indeks non-insulin memiliki kemampuan diagnostik yang baik hingga sangat baik, dengan TyG index sebagai indikator paling unggul untuk skrining sindrom metabolik di populasi urban.