Alexander Halim Santoso
Bagian Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tarumanagara, Jakarta, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KORELASI ANTARA KOMPOSISI OTOT TUBUH DAN KEKUATAN OTOT DENGAN LAJU FILTASI GINJAL MASYARAKAT KELURAHAN KOTA BAMBU Nicholas Albert Tambunan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.37336

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat, dan bukti terkini menunjukkan bahwa parameter muskuloskeletal berperan penting dalam memengaruhi fungsi renal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara komposisi otot tubuh dan kekuatan otot dengan laju filtrasi glomerulus (eGFR) pada masyarakat dewasa di Kelurahan Kota Bambu. Studi potong lintang dilakukan pada 107 partisipan usia 18–77 tahun, meliputi pengukuran massa otot tubuh menggunakan BIA, kekuatan genggaman tangan, serta pemeriksaan kreatinin serum untuk perhitungan eGFR berbasis CKD-EPI. Hasil analisis menunjukkan korelasi positif yang bermakna antara massa otot tubuh utama dan eGFR (r=0,205; p<0,05), dengan kontribusi lebih rendah pada massa otot lengan dan total tubuh, serta korelasi lemah pada kekuatan genggaman tangan. Temuan ini menegaskan bahwa kesehatan otot, khususnya otot tubuh utama, memiliki peran signifikan dalam mempertahankan fungsi filtrasi ginjal melalui mekanisme metabolik dan inflamasi. Meskipun demikian, keterbatasan desain observasional membatasi kesimpulan kausal dan generalisasi hasil ke populasi yang lebih luas. Studi lanjutan dengan desain longitudinal dan integrasi biomarker tambahan diperlukan untuk memperkuat pemahaman mengenai hubungan muskulo-renal dan mendukung pengembangan strategi skrining komunitas yang lebih akurat dan aplikatif.
EVALUASI INDEKS NON-INSULIN (METS-IR, TYG INDEX, DAN RASIO TG/HDL) DALAM DETEKSI SINDROM METABOLIK Lydia Tantoso; Alexander Halim Santoso
Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Muara Medika dan Psikologi Klinis (IN PRESS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmmpk.v6i1.37337

Abstract

Pendahuluan: Sindrom metabolik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya terus meningkat, terutama di wilayah perkotaan, dan berperan penting dalam peningkatan risiko penyakit kardiovaskular serta diabetes melitus tipe 2. Resistensi insulin menjadi patofisiologi utama sindrom metabolik, namun metode pengukurannya yang berbasis insulin bersifat mahal dan kurang praktis untuk skrining populasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan diagnostik METS-IR, TyG index, dan rasio TG/HDL dalam mendeteksi sindrom metabolik pada populasi dewasa di Jakarta. Metode: Penelitian potong lintang ini dilakukan pada Agustus 2024 – Maret 2025 di tiga kelurahan di Jakarta dengan melibatkan 205 responden dewasa berusia ≥18 tahun. Profil lipid diukur menggunakan panel lipid NESCO dan gula darah puasa menggunakan strip For-A. Sindrom metabolik ditetapkan berdasarkan kriteria NHLBI/AHA. Analisis diagnostik dilakukan menggunakan kurva Receiver Operating Characteristic (ROC) dan Area Under the Curve (AUC). Hasil: Prevalensi sindrom metabolik sebesar 45,4%. TyG index menunjukkan nilai AUC tertinggi (0,918), diikuti rasio TG/HDL (0,889) dan METS-IR (0,851), seluruhnya signifikan secara statistik (p<0,001). Kesimpulan: Ketiga indeks non-insulin memiliki kemampuan diagnostik yang baik hingga sangat baik, dengan TyG index sebagai indikator paling unggul untuk skrining sindrom metabolik di populasi urban.