Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai suatu peristiwa ketika membran ketuban mengalami kerusakan atau robek sebelum dimulainya proses persalinan. Kondisi ini memberikan dampak buruk bagi ibu maupun janin melalui peningkatan risiko kesakitan dan kematian, serta berkontribusi pada 30%–40% kelahiran prematur secara global. Berbagai faktor risiko yang berperan dalam terjadinya KPD, di antaranya paritas, infeksi vagina atau serviks, kehamilan ganda, riwayat KPD sebelumnya, usia ibu, trauma, dan sempitnya panggul. Jumlah persalinan (paritas) yang terlalu sedikit maupun terlalu banyak dapat memengaruhi kondisi fisiologis rahim dan berpotensi meningkatkan risiko KPD. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara paritas dengan kejadian KPD di RS Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng periode 2021–2025. Studi ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional dan pendekatan retrospektif, melibatkan 130 subyek yang diambil secara quota sampling dari rekam medis pasien. Hasil Studi menunjukkan bahwa mayoritas responden, yaitu 93 (71,5%) berada pada kategori paritas berisiko, sementara kejadian KPD ditemukan pada 59 (45,4%) responden. Analisis Chi-Square memperlihatkan adanya keterkaitan yang bermakna antara paritas dan kejadian KPD (p = 0,039). Perolehan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,521 menunjukkan bahwa ibu dengan paritas berisiko memiliki peluang 2,521 kali lebih besar mengalami KPD dibandingkan ibu dengan paritas tidak berisiko. Temuan ini menegaskan pentingnya paritas sebagai faktor risiko yang memerlukan pengawasan intensif guna mencegah timbulnya komplikasi kehamilan.