Artikel ini mengkaji Layar Tumbuh Papua sebagai praktik community exhibition network dan audience formation di luar bioskop komersial di Kota Jayapura. Dengan berfokus pada program antikorupsi “Papua Tra Boleh Korupsi,” penelitian ini melihat bagaimana pemutaran film, diskusi publik, games, pelatihan audiovisual, dan pertunjukan seni bekerja sebagai bentuk cultural mediation dalam ruang-ruang nonkomersial. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif berbasis observasi, dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur yang dilakukan selama kegiatan di SMA Negeri 4 Jayapura, KedIAMan Indonesia Art Movement, dan Asrama Nayak II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Layar Tumbuh Papua tidak hanya memperluas akses menonton film di luar bioskop komersial, tetapi juga membentuk pengalaman menonton yang partisipatif melalui diskusi reflektif, games berbasis Quizizz, rap battle, tari, stand-up comedy, dan pelatihan audiovisual. Setiap lokasi memiliki fungsi yang berbeda: sekolah menjadi simpul edukasi, KedIAMan bekerja sebagai pusat ekosistem seni dan film komunitas, sedangkan Asrama Nayak II menjadi ruang literasi audiovisual dan refleksi generasi muda. Artikel ini berargumen bahwa eksibisi film komunitas di Papua dapat dipahami sebagai cultural infrastructure yang memungkinkan sirkulasi film, produksi makna lokal, dan pembentukan audiens melalui relasi antara film, ruang, fasilitator, dan partisipasi komunitas.