Muhammad Ilham Mustain Murda
Institut Seni Budaya Indonesia Tanah Papua

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Timurnesia: Rekonstruksi Identitas Kolektif dan Kedaulatan Kreatif dalam Rimba Algoritmik Musik Indonesia Timur Muhammad Ilham Mustain Murda; Zandry Aldrin
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 15 No. 1 (2026): Grenek: Jurnal Seni Musik (June)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v15i1.72516

Abstract

The increasing public attention to Eastern Indonesian music in the digital space has not been fully followed by equal recognition in national music policy, distribution, and industry. This study analyzes Timurnesia as a reconstruction of collective identity and an initial strategy for strengthening the creative richness of Eastern Indonesian music amidst industry centralization and the dominance of digital platforms. The study uses a qualitative approach with a reflective autoethnography method. The primary data comes from the author's field notes as a participant in the Focus Group Discussion "Roadmap for the Eastern Indonesian Music Ecosystem in National Cultural Policy" held by the Indonesian Ministry of Culture on January 27, 2026. Data are strengthened through forum documents, reflective memos, media, and digital traces. The results of the study indicate that Timurnesia is not simply a genre name, but a community forum and framework that consolidates Eastern Indonesian music practitioners. The study concludes that Timurnesia is still in the early stages of institutionalization, but has the potential to strengthen regional identity, digital resilience, and community-based cultural diplomacy
PEMANFAATAN TRADISI LISAN BEDANDENG SUKU KUTAI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Meita Setyawati; Tri Indrahastuti; Syaiful Arifin; Muhammad Ilham Mustain Murda; Albertus Magnus Rea
Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP) Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jsp.v16i1.13417

Abstract

Tradisi lisan Bedandeng merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. Namun, dalam praktik pembelajaran, sastra lisan lokal masih jarang dimanfaatkan secara optimal sebagai materi ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tradisi lisan Bedandeng sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menelaah bentuk puisi lama dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan penutur Bedandeng serta dokumentasi tuturan tradisi lisan yang masih berkembang di masyarakat Suku Kutai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bedandeng memiliki karakteristik struktural yang sesuai dengan bentuk puisi lama, khususnya syair, yang ditandai oleh keteraturan bait, larik, dan rima. Selain itu, tuturan Bedandeng mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Bedandeng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna, serta berkontribusi dalam penguatan literasi budaya dan pendidikan karakter peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal.
Layar Tumbuh Papua: Community Exhibition Networks and Audience Formation beyond Commercial Cinemas in Jayapura Tindia Febriyati; Muhammad Ilham Mustain Murda
IMAJI Vol. 17 No. 2 (2026): Pemasaran dan Eksibisi Film
Publisher : Fakultas Film dan Televisi - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52290/imaji.v17i2.448

Abstract

Artikel ini mengkaji Layar Tumbuh Papua sebagai praktik community exhibition network dan audience formation di luar bioskop komersial di Kota Jayapura. Dengan berfokus pada program antikorupsi “Papua Tra Boleh Korupsi,” penelitian ini melihat bagaimana pemutaran film, diskusi publik, games, pelatihan audiovisual, dan pertunjukan seni bekerja sebagai bentuk cultural mediation dalam ruang-ruang nonkomersial. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif berbasis observasi, dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur yang dilakukan selama kegiatan di SMA Negeri 4 Jayapura, KedIAMan Indonesia Art Movement, dan Asrama Nayak II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Layar Tumbuh Papua tidak hanya memperluas akses menonton film di luar bioskop komersial, tetapi juga membentuk pengalaman menonton yang partisipatif melalui diskusi reflektif, games berbasis Quizizz, rap battle, tari, stand-up comedy, dan pelatihan audiovisual. Setiap lokasi memiliki fungsi yang berbeda: sekolah menjadi simpul edukasi, KedIAMan bekerja sebagai pusat ekosistem seni dan film komunitas, sedangkan Asrama Nayak II menjadi ruang literasi audiovisual dan refleksi generasi muda. Artikel ini berargumen bahwa eksibisi film komunitas di Papua dapat dipahami sebagai cultural infrastructure yang memungkinkan sirkulasi film, produksi makna lokal, dan pembentukan audiens melalui relasi antara film, ruang, fasilitator, dan partisipasi komunitas.
WISISI: TRANSFORMASI TARI-MUSIK PAPUA DARI RITUAL ADAT KE HIBURAN GLOBAL DIGITAL Muhammad Ilham Mustain Murda
Greget: Jurnal Kreativitas dan Studi Tari Vol. 24 No. 2 (2025): KEBERAGAMAN KARYA TARI SEBAGAI EKSPRESI SIMBOLIK
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/grt.v24i2.7681

Abstract

Wisisi, a dance-music form originating from the Dani community in the Papuan Highlands, was traditionally embedded in ritual practices as a medium of social cohesion, entertainment, and collective healing. Over the last decade, Wisisi has undergone a profound shift from ritual performance into popular entertainment, later evolving into digital music production performed on national and international stages. This article aims to examine the transformation of Wisisi from its ritual roots to its position as a global cultural expression. The study applies a qualitative approach, combining literature review, audiovisual documentation, and mini-ethnographic analysis of sources such as traditional performance archives, contemporary recordings, and the documentary Wisisi Nit Meke that won recognition at the Indonesian Film Festival in 2023. The findings reveal three major aspects of transformation: first, the transition of function from ritual practice to public celebration; second, the adaptation of Wisisi into electronic forms by younger musicians using digital production tools; and third, the dissemination of Wisisi across online platforms and international festivals. These changes demonstrate how Wisisi negotiates cultural identity in the digital era while raising concerns regarding commodification and the sustainability of indigenous values.