Penelitian ini mengkaji representasi keberlanjutan dalam wacana kafe modern urban Indonesia menggunakan Analisis Wacana Kritis (CDA) model Norman Fairclough. Korpus terdiri atas 42 teks, yaitu artikel media populer, profil desain arsitektur, ulasan pengguna digital, dan konten promosi resmi dari kafe ramah lingkungan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Bali, dan Medan, yang terbit antara 2020–2025. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi dialektika antara estetika dan fungsi ekologis dalam representasi keberlanjutan. Temuan menunjukkan bahwa narasi keberlanjutan secara dominan dikonstruksi melalui leksikal estetika dan visual ('estetik', 'asri', 'hijau', 'kece'), sementara fungsi ekologis material (efisiensi energi, pengelolaan limbah terukur, jejak karbon) tersisihkan dan disampaikan secara kabur tanpa data kuantitatif. Pada tingkat praktik diskursif, rantai intertekstualitas sirkular antara konten promosi, artikel media, dan ulasan pengguna menciptakan ruang gema tanpa verifikasi, mengubah media arus utama dari watchdog menjadi megaphone pemasaran. Pada tingkat praktik sosial, wacana ini memproduksi green simulacrum (Baudrillard), di mana tanda visual hijau menggantikan realitas ekologis material, sekaligus mendepolitisasi krisis lingkungan melalui individualisasi tanggung jawab dan mereproduksi segregasi spasial berbasis kelas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana kafe ramah lingkungan di Indonesia adalah teater keberlanjutan, bukan wacana ekologi. Manfaat penelitian ini secara teoretis memperkaya kajian komunikasi lingkungan dan CDA, sedangkan secara praktis menjadi refleksi bagi pengelola kafe, desainer, jurnalis, dan pembuat kebijakan agar lebih kritis dalam memproduksi narasi keberlanjutan.