Desa-desa di Indonesia merupakan unit strategis ketahanan nasional, namun tetap rentan terhadap ancaman multidimensi yang saling terkait, mulai dari serangan siber dan disinformasi, kerapuhan ideologi, degradasi lingkungan, keterbatasan akses kesehatan, hingga lemahnya daya saing ekonomi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini menjawab persoalan tersebut di Desa Karamatwangi, Kabupaten Garut, melalui intervensi lintas disiplin yang terintegrasi, dengan kerangka Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) dan lokalisasi SDGs, serta dianalisis menggunakan teori ketahanan komunitas dari Norris dkk. (2008) sebagai kapasitas adaptif berjejaring. Dilaksanakan pada 21–22 Mei 2026 oleh 46 mahasiswa program doktoral (Angkatan 8) Universitas Pertahanan Republik Indonesia, program ini menerapkan desain partisipatif, skema kolaborasi quadruple-helix, serta metode observasi, dokumentasi, dan pengukuran pra-pasca. Lima intervensi dilakukan: (1) penguatan keamanan siber dan resiliensi kognitif melalui forum FORKOMSANDA bersama BSSN (SDG 9, 16, 17); (2) penanaman 210 bibit alpukat produktif untuk ketahanan ekologis (SDG 8, 13, 15); (3) skrining kesehatan gratis dan USG kebidanan bagi 150 warga (SDG 3); (4) workshop "Pancasila di Era Digital" untuk resiliensi ideologis (SDG 4, 16); dan (5) pelatihan manajemen bisnis berbasis AI bagi UMKM dan petani (SDG 1, 8, 9). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kesadaran siber, pemahaman kesehatan preventif, literasi ideologi-digital, dan kapasitas ekonomi-teknologi. PKM berbasis Sishankamrata terbukti efektif mengakarkan SDGs di tingkat lokal sekaligus memperkuat ketahanan nasional dari desa.