Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah masih lemahnya internalisasi nilai moderasi beragama di lembaga pendidikan dasar dalam menghadapi keberagaman. Minimnya pemahaman terhadap perbedaan dan kurangnya implementasi pendidikan multikultural dapat memicu intoleransi. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaimana praktik manajemen pendidikan multikultural di sekolah dasar dapat menjadi strategi efektif dalam menanamkan nilai moderat dan membentuk generasi yang toleran serta inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi lapangan di SD Pelita Hati Jember. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, dengan teknik purposive sampling. Analisis menggunakan model Miles, Huberman, dan SaldaƱa melalui kondensasi data, penyajian, dan verifikasi, serta validasi data dilakukan dengan triangulasi dan member checking untuk menjaga keabsahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SD Pelita Hati Jember memiliki komitmen kuat terhadap pendidikan multikultural inklusif dan global melalui integrasi Kurikulum 2013 dan Cambridge, kepemimpinan toleran, serta program lintas budaya. Pembelajaran aktif dan peran guru inklusif membentuk karakter moderasi beragama. Namun, keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan utama. Keberlanjutan pendidikan multikultural memerlukan dukungan kelembagaan dan penguatan kapasitas guru. Sekolah ini menjadi model strategis dalam membangun karakter moderat di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Penelitian ini berkontribusi dalam memberikan model praktik manajemen pendidikan multikultural yang aplikatif di sekolah dasar. Temuan ini dapat menjadi acuan bagi pembuat kebijakan dan pendidik dalam merancang strategi pembelajaran inklusif untuk menumbuhkan karakter moderat di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.