Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Batam, khususnya wilayah pesisir Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, akibat keterbatasan akses layanan kesehatan dan tingginya ketergantungan terhadap obat nyamuk sintetis berbahan diklorvos dan DEET yang berisiko menimbulkan resistensi vektor serta gangguan kesehatan penggunanya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pesisir dalam memproduksi obat nyamuk herbal berbasis daun serai (Cymbopogon nardus L.) sebagai alternatif pencegahan DBD yang aman, murah, dan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan pada 9 Mei 2026 di Pulau Kasu, Kota Batam, dengan sasaran 30 peserta yang terdiri atas ibu-ibu PKK, kader posyandu, dan Karang Taruna, bermitra dengan Puskesmas Belakang Padang dan Kelurahan Pulau Kasu. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat (community empowerment) melalui empat tahap: pra-kegiatan, penyuluhan interaktif tentang epidemiologi DBD dan PSN 3M Plus, pelatihan pembuatan spray anti nyamuk metode maserasi etanol 70%, serta evaluasi pre-test/post-test menggunakan kuesioner 15 butir. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan peserta dari 54,7 menjadi 86,3 atau meningkat sebesar 57,8%, dan seluruh peserta berhasil memproduksi 600 mL spray herbal konsentrasi 15% dengan karakteristik organoleptis yang baik serta harga pokok produksi Rp5.000–Rp7.000 per 100 mL. Disimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui produksi obat nyamuk herbal berbasis daun serai efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian masyarakat pesisir dalam pencegahan DBD serta membuka peluang pengembangan UMKM warga sebagai bentuk keberlanjutan program.