I Ketut Sudiarta
Universitas Triatma Mulya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Shivering Pasca Operasi Di Ruang Operasi: Factors Associated with the Occurrence of Postoperative Shivering in the Operating Room Kadek Ary Dwipayana; Gede Arya Bagus Arisudhana; I Ketut Sudiarta
Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia Vol. 2 No. 1 (2025): Jurnal Aliansi Keperawatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jaki.v2i1.67

Abstract

Latar Belakang: pembedahana merupakan salah satu tatalaksana pengobatan kuratif melalui proses interprofesi. Pembedahan memiliki komplikasi yang mungkin terjadi diantaranya shivering. Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor pendukung. Kondisi shivering ini sering terjadi pasca pembedahan dilakukan. Beberapa faktor penyebab perlu dilakukan pengkajian lebih jauh sehingga dapat dilakukan pencegahan pada kondisi yang lebih buruk. Tujuan: penelitian ini memilki tujuan utama untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan shivering pada pasien post operasi menggunakan teknik spinal anestesi. Metode: Penelitian merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 67 pasien post operasi, diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi. Analisa data menggunakan uji multivariat regresi linier ganda. Hasil: Uji terhadap variabel independen menunjukkan korelasi antara variabel usia dengan kejadian shivering (nilai p = 0,004), indeks masa tubuh berkorelasi dengan kejadian shivering (nilai p = 0,005), variabel lama operasi memiliki korelasi dengan kejadian shivering (nilai p = 0,000). Kesimpulan: Tatalaksana bedah merupakan intervensi yang kompleks melibatkan interprofesi, sehingga pemantauan terhadap kondisi pasien demi keselamatan menjadi penting, terutama ketika pasien mengalami kondisi hipotermi dan shivering. Berdasarkan temuan penelitian terdapat beberapa faktor seperti usia, indeks massa tubuh dan lama operasi yang berkorelasi dengan shivering pada pasien pasca operasi.
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP SELF- MANAGEMENT PADA PASIEN DM TIPE-2 DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I DENPASAR SELATAN: The Relationship Between Family Support and Self-Management in Type-2 Diabetes Mellitus Patients in the Working Area of Puskesmas I Denpasar Selatan Ni Luh Putu Mira Santana Sari; Lucia Yuniarti; I Ketut Sudiarta
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 2 (2025): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55887/jski.v3i2.34

Abstract

Latar Belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya kenaikan gula darah disebabkan oleh terganggunya hormon insulin. Pada pasien DM tipe-2 yang tidak mendapatkan dukungan keluarga akan mempengaruhi self-management. Penerapan self-management yang baik memerlukan konsistensi dan perubahan kebiasaan yang signifikan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap self-management pada pasien DM tipe-2 di wilayah kerja Puskesmas Denpasar Selatan 1. Metode: Desain penelitian menggunakan observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita yang tercatat dengan diagnosa diabetes melitus yang mencari pengobatan di Puskesmas Denpasar Selatan 1 pada bulan Januari-Maret sebanyak 93 orang dengan sampel sebanyak 75 responden dan menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner HDFSS (Hensarling Diabetes Family Support Scale) dan kuesionare Diabetes Self-management Questionare (DSMQ). Hasil: Hasil penelitian menggunakan uji statistik chi square, nilai signifikasinsi atau probabilitas (p) didapatkan nilai p = 0,00 (p < 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan dukungan keluarga terhadap self-management pada pasien DM tipe-2 di wilayah kerja Puskesmas I Denpasar Selatan.
EVALUASI SOFT SKILL PERAWAT DALAM MELAKUKAN TINDAKAN KEPERAWATAN BERDASARKAN LIMA DIMENSI KOMPETENSI SKKNI DI SILOAM HOSPITALS BALI: Evaluation of Nurses’ Soft Skills in Performing Nursing Care Based on the Five Dimensions of SKKNI Competencies at Siloam Hospitals Bali I Ketut Sudiarta; Lucia Ni Luh Yuniarti; Ni Luh Putu Mira Santana Sari
Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Sinergi Kesehatan Indonesia
Publisher : Lentera Mitra Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Soft skill perawat merupakan aspek penting dalam pelaksanaan tindakan keperawatan yang aman, efektif, responsif, dan berorientasi pada pasien. Namun, kemampuan soft skill perawat masih belum optimal pada beberapa aspek sehingga dapat memengaruhi kualitas pelayanan keperawatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi soft skill perawat berdasarkan lima dimensi kompetensi SKKNI, yaitu task skill, task management skill, contingency management skill, job/role environment skill, dan transfer skill dalam pelaksanaan tindakan keperawatan di Siloam Hospitals Bali. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif evaluatif menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada Mei–Juli 2025 dengan jumlah sampel sebanyak 45 perawat yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi kompetensi berbasis lima dimensi kompetensi SKKNI dengan skala Likert 1–5. Instrumen dinyatakan valid (p < 0,05) dan reliabel (Cronbach’s alpha = 0,800). Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Mayoritas responden berada pada kategori cukup pada dimensi task skill (42,2%), contingency management skill (75,6%), dan transfer skill (40,0%). Sementara itu, dimensi task management skill (51,1%) dan job/role environment skill (71,1%) berada pada kategori baik. Kesimpulan: Soft skill perawat masih memerlukan penguatan terutama pada dimensi contingency management skill dan transfer skill melalui pelatihan berbasis kompetensi dan pengembangan profesional berkelanjutan.