Shinta Wulandari
Politeknik Negeri Lampung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Niken Feladita; Cut Syarifa Thursina; Alfa Frista Arta; Shinta Wulandari; Selvi Megawati; Rachmi Nurkhalika
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.
Perbandingan Sediaan Cream Body Scrub Serbuk Kopi (Coffea Sp) Dengan Serbuk Beras (Oryza sativa L.) Terhadap Karakteristik Fisik Dan Stabilitas Sediaan Niken Feladita; Cut Syarifa Thursina; Alfa Frista Arta; Shinta Wulandari; Selvi Megawati; Rachmi Nurkhalika
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25450

Abstract

Body scrub adalah produk kosmetik semi padat. Biasanya digunakan membantu mengangkat sel kulit mati. Caranya dengan eksfoliasi fisik. Bahan alami untuk eksfoliasi seperti serbuk kopi sering digunakan eksfoliator.  Bahan eksfoliator alami seperti serbuk kopi banyak digunakan dalam formulasi scrub karena memiliki sifat abrasif yang dapat membantu regenerasi sel kulit. Namun, ukuran partikel serbuk kopi yang tidak seragam dapat memengaruhi kehalusan dan kestabilan fisik krim. Serbuk beras Oryza sativa L. ukurannya lebih kecil dan rata. Jadi, bubuk beras bisa dapat pilihan lain untuk eksfoliator. Hal tersebut membuat krim lebih tahan lama. Penelitian ini ditujukan untuk membandingkan sifat fisik dan ketahanan krim body scrub. Krim ini menggunakan serbuk Coffea sp. dan serbuk beras Oryza sativa L. sebagai bahan pengelupas. Konsentrasinya sama yaitu 27,2%. Pengujian fisik yang dilakukan meliputi tampilan, kehalusan, pH, kekentalan, kemudahan menyebar, daya lekat, jenis emulsi, dan stabilitas. Stabilitas diuji menggunakan metode cycling test. Data dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi yang mengandung serbuk beras memiliki homogenitas yang lebih baik, viskositas lebih tinggi, daya sebar yang lebih luas, serta daya lekat yang lebih lama dibandingkan dengan formulasi yang mengandung serbuk kopi. Kedua formulasi menunjukkan tipe emulsi minyak dalam air (M/A). Uji stabilitas menunjukkan bahwa formulasi dengan serbuk beras tetap stabil tanpa pemisahan fase setelah enam siklus pengujian, sedangkan formulasi dengan serbuk kopi menunjukkan adanya sedimentasi ringan. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan (p 0,05) pada seluruh parameter pengujian.
The Relationship between Duration of Treatment and Drug Side Effects on SGOT and SGPT Levels in Pulmonary Tuberculosis Patients during the Continuation Phase at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Faisal Al Kahfi; Annisa Primadiamanti; Shinta Wulandari
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 9 No 1 (2026): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/jfm.v9i1.3904

Abstract

Backrgound: Tuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis. Its treatment consists of two phases: the intensive phase, which includes rifampicin, isoniazid, pyrazinamide, and ethambutol, and the continuation phase, which consists of rifampicin and isoniazid. Long-term use of anti-tuberculosis drugs may cause various adverse effects, with hepatotoxicity being one of the most serious. Objective: This study aimed to determine the relationship between the duration of treatment and drug side effects on SGOT and SGPT levels in pulmonary tuberculosis patients during the continuation phase at RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Methods: This study employed a retrospective, observational, non-experimental cross-sectional design. Data were collected from the medical records of pulmonary tuberculosis patients treated between January and August 2025, with a total sample size of 120 patients. Data were analyzed using the Chi-square test. Results: The results showed a significant relationship between treatment duration and SGOT/SGPT levels p = 0.001 (p < 0.05). A significant relationship was also found between drug side effects and SGOT/SGPT levels p = 0.001 (p < 0.05). Conclusion: It can be concluded that patients receiving anti-tuberculosis treatment for more than four months are at a higher risk of elevated SGOT and SGPT levels. Furthermore, higher SGOT and SGPT levels are associated with a greater likelihood of experiencing severe drug side effects.