p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Sewagati
Eva Oktavia Ningrum
Departemen Teknik Kimia Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Mesin Stripping Untuk Menghasilkan Benang dan Komposit Serat Daun Nanas di Desa Bedali Kabupaten Kediri Soeprijanto Soeprijanto; Eva Oktavia Ningrum; Niniek Fajar Puspita; Danawati Hari Prajitno; Devika Nurlaela Septiana; Muhammad Afaf Adani; Yoseph Meidyanto Hermawan; Nisrina Amatur Rahman; Mohamad Fakhri Asrori
Sewagati Vol 9 No 4 (2025)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v9i4.2327

Abstract

Desa Bedali, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, merupakan suatu desa yang memiliki lahan nanas ± 75 Ha. Desa Bedali merupakan salah satu dari beberapa desa penghasil nanas, yang  memiliki rumpun nanas yang cukup banyak, dan merupakan salah satu sumber penghasilan utama. Pada saat pasca panen, kebanyakan petani hanya mengambil buah nanas, namun banyak daun nanas yang hanya dibakar dan dijadikan sebagai kompos. Oleh kerena itu, Tim KKN Abmas Teknologi Tepat Guna (TTG) berbasis produk telah melakukan inovasi untuk  pengolahan lebih lanjut residu daun nanas tersebut, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi lebih tinggi. KKN Abmas merupakan suatu kegiatan dengan melibatkan mahasiswa, KKN Abmas berinovasi untuk merancang suatu alat yang dapat digunakan untuk memanfaatan residu daun nanas, berupa alat stripping merupakan lanjutan dari alat sebelumnya yaitu alat opening, untuk mengolah serat halus menjadi lebih halus, oleh karena itu alat stripping ini sangat dibutuhkan dalam memproduksi benang dari serat yang diperoleh dari daun nanas. Kemudian, serat halus yang dihasilkan dapat dibuat sebagai bahan baku kerajinan seperti pembuatan komposit, benang dan kain. Pelaksanaan KKN Abmas ini dilakukan dengan memberikan sosialisasi kepada kelompok tani, Balitbangda, Dinas Perdagangan di Desa Bedali, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Rencana kegiatan Abmas selanjutkan akan memberikan pelatihan Pembuatan zat warna untuk pewarnaan benang, dan kain hasil proses tenun kepada kelompok tani di Kabupaten Kediri.
Implementasi Alat Ekstraktor Mekanik untuk Meningkatkan Efisiensi Produksi Serat Daun Nanas pada Kelompok Tani Mukti, Desa Bedali, Kabupaten Kediri Soeprijanto Soeprijanto; Eva Oktavia Ningrum; Achmad Dwitama Karisma; Anisa Fatma`` Aulia; Nurul Faizah; Syabina Putri Salsabil; Galih Kusna Ramadhani; Richard Wijaya Santoso; Ahmad Dani Yasrillah; Narendra Briantara Putra; Nicholas Fernando Halim
Sewagati Vol 10 No 4 (2026)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j26139960.v10i4.9883

Abstract

Desa Bedali, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, merupakan sentra produksi nanas yang menghasilkan limbah daun dalam jumlah besar setiap musim panen. Namun, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena proses ekstraksi serat masih dilakukan secara manual, sehingga memerlukan waktu lama dan menghasilkan kualitas serat yang tidak seragam. Padahal, daun nanas memiliki potensi sebagai serat alam bernilai ekonomi tinggi untuk berbagai produk ramah lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi serat daun nanas melalui penerapan teknologi tepat guna berupa ekstraktor mekanik. Metode pelaksanaan meliputi observasi potensi dan kebutuhan mitra, sosialisasi, pelatihan pengoperasian alat, serta uji coba produksi oleh anggota kelompok tani. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penggunaan ekstraktor mekanik mampu meningkatkan laju produksi dari sekitar 5–6 kg daun/jam menjadi 20–25 kg/jam serta mempercepat waktu proses dari ±6–8 jam menjadi ±1–2 jam, yang setara dengan peningkatan efisiensi hingga ±75–80% atau sekitar empat kali lebih cepat dibandingkan metode manual. Selain itu, rendemen serat kasar meningkat dari sekitar 2,5–3,0% menjadi 3,5–4,5%, dengan kualitas serat yang lebih bersih dan seragam. Penerapan teknologi ini berhasil meningkatkan kapasitas SDM hingga 80- 90%, yang berdampak positif pada peningkatan nilai limbah pertanian, penguatan ekonomi lokal, dan pencapaian SDGs terkait pengentasan kemiskinan serta industri berkelanjutan.