Nikeherpianti Lolok
Program Studi Farmasi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Mandala Waluya, Kendari, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Identifikasi Senyawa Dan Uji Efek Antidiabetes Melitus Ekstrak Terpurifikasi Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) Pada Mencit (Mus musculus) Dengan Induksi TTGO dan Induksi Aloksan Sri Riska Wahyu Susana; Nikeherpianti Lolok; La Ode Bariun
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 4 No. 6 (2025): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v4i6.198

Abstract

Diabetes melitus atau penyakit kencing manis merupakan penyakit menahun yang dapat diderita seumur hidup. Diabetes melitus disebabkan oleh gangguan metabolisme yang terjadi pada organ pankreas yang ditandai dengan peningkatan gula darah atau sering disebut dengan kondisi hiperglikemia yang disebabkan karena menurunnya jumlah insulin dari pankreas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam ekstrak terpurifikasi daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dan aktivitas antidiabetes melitus pada mencit yang diberikan ekstrak terpurifikasi daun cengkeh dengan induksi glukosa dan induksi aloksan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian dilakukan purifikasi menggunakan metode ekstraksi cair-cair dengan pelarut etil asetat:aquadest (1:1). Selanjutnya dilakukan skrining fitokimia untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder apa saja yang terkandung dalam ekstrak terpurifkasi daun cengkeh (Syzygium aromaticum). Ekstrak terpurifikasi daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan dosis 300 mg/KgBB diujikan sebagai antidiabetes dengan 2 metode induksi TTGO (glukosa) dan Aloksan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan One-Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil skrining fitokimiasenyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak terpurifikasi daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yaitu senyawa alkaloid, fenol, tannin, saponin, flavonoid, dan steroid. Hasil induksi TTGO (glukosa) dan induksi aloksan pada uji efek antidiabetes melitus dengan ekstrak terpurifikasi daun cengkeh (Syzygium aromaticum) 300 mg/KgBB terhadap mencit secara signifikan dapat menurunkan kadar gula darah dibandingkan kontrol negatif (p<0,05) dan hasilnya tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol positif (p>0,05).
Analisis Hubungan Manajemen Sistem Satu Pintu dengan Kepuasan Pasien Pada Instalasi Farmasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari Desi Septiana Putri; Nikeherpianti Lolok; Yusuf Useng
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 4 No. 6 (2025): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v4i6.265

Abstract

Instalasi farmasi rumah sakit adalah departemen atau unit bagian di suatu rumah sakit di bawah pimpinan apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang undangan yang berlaku dan kompeten secara proposional farmasi rumah sakit dengan fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan dan pelayanan Kefarmasian yang terdiri atas pelayanan paripurna mengcakup Perencanaan, produksi penyimpanan sediaan farmasi,dispensing obat berdasarkan resep penderita rawat inap dan rawat jalan. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross sectional. Sampel pada penelitian sebanyak 54 sampel. di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari. Metode analisis menggunakan uji Chi square. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara dimensi pendaftaran resep, penggkajian dan pelayanan resep, pelayanan informasi obat, pelayanan konseling, evaluasi penggunaan obat, monitoring efek samping obat dengan tingkat kepuasan pasien (hubungan sedang) dan tidak ada hubungan antara pemantauan terapi obat, pembayaran resep dengan tinggkat kepuasan pasien (hubungan lemah). Kesimpulan penelitian ini harapkan dapat menjadi informasi yang berharga dalam mengkaji sekaligus sebagai bahan dalam memberikan kualitas pelayanan sehingga meningkatkan kepuasan pasien.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L) Sebagai Antidiabetes Melitus Pada Mencit yang Diinduksi Aloksan Jamrahul Jelina; Nikeherpianti Lolok; Citra Dewi
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jpmw.v5i1.595

Abstract

Penyakit Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan dunia karena bisa menyebabkan kematian dan kesakitan relatif sangat tinggi. Ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) merupakan salah satu tanaman umbi-umbian yang mengandung beragam senyawa bioaktif, salah satunya antosianin, yang berpotensi memberikan efek antidiabete melitus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas dan dosis optimal dari ekstrak ubi jalar ungu dalam menurunkan kadar gula darah pada mencit (Mus musculus) yang diinduksi aloksan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan 25 ekor mencit yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan (n= 5/kelompok) yaitu kontrol negatif (Na CMC 0,5%), kontrol positif (Glibenklamid 5 mg/kgBB) serta ekstrak ubi jalar ungu dosis 100, 200, 400 mg/kgBB. Pengukuran kadar glukosa dilakukan pada hari ke-1, ke-3, ke-7 dan ke-14 menggunakan metode GOD PAP kemudian dianalisis ANOVA satu arah dan uji LSD. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan antara kontrol negatif dan positif (p=0,002), yang menandakan induksi berhasil. Ekstrak dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB terbukti mampu menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan dibandingkan kontrol negatif (p < 0,001), sedangkan dosis 100 mg/kgBB belum memberikan efek bermakna. Penurunan glukosa tertinggi terjadi pada dosis 400 mg/kgBB pada hari ke -14. Disimpulkan bahwa Ekstrak etanol ubi jalar ungu menunjukkan aktivitas antidiabetes pada dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB. Semakin tinggi dosis, semakin besar pula penurunan kadar glukosa darah sesuai hasil uji statistik. Penelitian lanjutan dapat menggunakan jumlah sampel lebih besar dan variasi dosis lebih luas.