Metabolisme karbohidrat merupakan rangkaian proses biokimia yang berfungsi mempertahankan kestabilan kadar glukosa dalam darah. Variasi pola makan, terutama terkait jumlah serta jenis karbohidrat yang dikonsumsi, dapat memengaruhi sistem regulasi glukosa melalui peran hormon insulin. Ketidakteraturan dalam proses ini berpotensi menimbulkan kondisi seperti prediabetes maupun hiperglikemia. Konsumsi karbohidrat dalam jumlah tinggi umumnya meningkatkan kadar glukosa darah akibat tingginya beban glikemik, sementara pola makan yang seimbang atau rendah karbohidrat cenderung membantu menjaga kestabilan glukosa. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara metabolisme karbohidrat dengan regulasi kadar glukosa darah pada individu dengan pola diet yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan metode cross sectional. Sampel terdiri dari 44 responden yang diperoleh menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan peneliti, seperti usia, kondisi kesehatan, dan pola konsumsi karbohidrat. Responden kemudian dikelompokkan ke dalam diet tinggi karbohidrat, diet seimbang, dan diet rendah karbohidrat. Data diperoleh melalui pemeriksaan kadar glukosa darah serta pengisian kuesioner pola makan. Instrumen kuesioner yang digunakan telah melalui uji validitas dengan menggunakan korelasi Pearson Product Moment, dimana seluruh item pernyataan dinyatakan valid karena memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel. Uji reliabilitas dilakukan menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha dan menunjukkan nilai > 0,7, sehingga instrumen dinyatakan reliabel atau konsisten dalam mengukur variabel penelitian. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05). Hasil menunjukkan rata-rata glukosa tertinggi pada kelompok tinggi karbohidrat dan terendah pada kelompok rendah karbohidrat. Mayoritas responden berada pada kategori normal, meskipun terdapat prediabetes dan hiperglikemia. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pola diet dan regulasi glukosa darah. Faktor lain seperti aktivitas fisik dan gaya hidup turut berkontribusi.