Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terhadap perubahan fisiologis dan psikologis, salah satunya adalah stres yang dapat memengaruhi kualitas tidur. Stres yang tinggi dapat menyebabkan gangguan tidur seperti kesulitan tidur, sering terbangun di malam hari, dan merasa lelah saat bangun tidur. Penurunan kualitas tidur pada lansia berisiko menimbulkan masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, gangguan metabolik, serta penurunan fungsi kognitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan kualitas tidur pada lansia di Panti Werdha Welas Asih, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sebanyak 30 lansia menjadi sampel yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42), sedangkan kualitas tidur diukur dengan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) kedua instrument tersebut valid dan reliable dengan hasil r= 0,872 (DASS) dan r = 0,791 (PSQI), sedangkan untuk reliabilitas nya alpha cronbach = 0,981 (DASS) dan alpha cronbach sebesar 0.83 (PSQI). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengalami stres ringan (16 orang), dan kualitas tidur buruk dialami oleh 17 orang. Lansia dengan tingkat stres lebih tinggi cenderung memiliki kualitas tidur yang lebih buruk. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat stres dan kualitas tidur (p < 0,05). Kesimpulannya, semakin tinggi tingkat stres yang dialami lansia, semakin buruk kualitas tidurnya.