Abdul Halim
Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Living Qur’an in the Manaqiban Tradition: Qur'anic Reception and Religious Meaning among the Haurendeng Community Abdul Halim; Insan Kamil; Mushallina Hilma
Jurnal Fuaduna : Jurnal Kajian Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 10 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/fuaduna.v10i1.11171

Abstract

This article examines the phenomenon of the living Qur’an in the manaqiban tradition practiced by the Haurendeng community, West Java. The Qur’an is understood not only as a sacred text to be read and interpreted, but also as a living reality that appears in the various religious practices and social experiences of Muslim communities. This study aims to analyze how Qur’anic verses are received, practiced, and given meaning within the manaqiban tradition, and how the community constructs religious meanings through this practice. This research employs a qualitative approach using the living Qur’an perspective and reception studies. Data were collected through observation, interviews, and documentation related to the implementation of manaqiban rituals in the Haurendeng community. The data were analyzed using Peter L. Berger and Thomas Luckmann’s theory of social construction and Karl Mannheim’s theory of meaning, consisting of objective meaning, expressive meaning, and documentary meaning. The findings show that manaqiban functions as a form of Qur’anic reception in which Qur’anic verses are not merely recited as ritual texts but are understood as sources of spiritual values, blessings, and guidance in everyday life. The community interprets manaqiban as a medium for strengthening faith, maintaining social relationships, and expressing religious identity. This study demonstrates that the living Qur’an reflects the dynamic relationship between Qur’anic texts, local traditions, and community religious experiences).
Relasi Kefasikan dengan Kehancuran Negeri dalam Tafsīr Al-Munīr Karya Wahbah Az-Zuḥailī (Studi Tematik Ayat-Ayat Kefasikan) Hafizur Rahman; Abdul Halim
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.37608

Abstract

Penelitian ini mengkaji relasi antara kefasikan (fisq) dan kehancuran suatu negeri dalam Tafsir al-Munir Wahbah az-Zuḥaili melalui pendekatan tematik (tafsīr mawḍu’i). Temuan menunjukkan bahwa az-Zuḥaili memahami kefasikan bukan hanya sebagai pelanggaran individual, melainkan sebagai penyimpangan struktural yang menggerogoti tatanan sosial, politik, dan moral sebagaimana tercermin dalam tafsirnya atas Q.S. al-Isra’ (17):16 dan Q.S. al-A’raf (7):96. Ia menegaskan bahwa kehancuran suatu masyarakat merupakan sunnatullah kolektif, yaitu konsekuensi logis dari akumulasi kefasikan yang tidak diimbangi upaya perbaikan (iṣlah). Meski penafsirannya memberikan kerangka etis yang kuat untuk membaca krisis kontemporer seperti korupsi sistemik dan ketimpangan sosial pendekatannya berisiko mengadopsi narasi deterministik yang mereduksi kompleksitas sosial ke dalam logika hukuman ilahi. Padahal Al-Qur’an juga menekankan prinsip rahmat, pertobatan, dan potensi transformasi. Dengan demikian, relasi kefasikan-kehancuran dalam tafsir az-Zuḥaili sebaiknya dipahami tidak sebagai takdir absolut, melainkan sebagai peringatan normatif-prophetik yang mengajak umat merefleksikan tanggung jawab kolektif dalam membangun keadilan dan integritas moral.Kata Kunci: Kefasikan, kehancuran Negeri, Tafsir al-Munir, Wahbah Az-Zuḥaili.