Penelitian ini mengkaji dinamika pengalaman transpersonal seorang remaja akhir berinisial G.W. yang tumbuh dalam keluarga toxic, dengan fokus pada krisis identitas, pencarian makna hidup, dan proses rekonstruksi spiritualitas. Fenomena ini penting dikaji karena pola keluarga disfungsional sering kali menjadi pemicu sekaligus penghambat perkembangan psikologis dan spiritual individu muda, namun jarang mendapat perhatian dalam kajian psikologi transpersonal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi informal yang dicatat dalam lima dimensi catatan lapangan, serta dokumentasi berupa rekaman audio dan transkrip verbatim. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik dengan triangulasi data observasi untuk memperkuat temuan. Hasil penelitian mengungkap enam tema utama, yaitu keluarga toxic sebagai titik awal krisis, krisis identitas dan kekosongan eksistensial, pencarian spiritual otentik melalui alam dan merenung, dialog personal dengan Tuhan, redefinisi ibadah dari ritual menuju cinta kasih, serta kesadaran untuk memutus rantai pola toxic keluarga. Faktor internal berupa kondisi emosional, faktor eksternal berupa kehadiran figur protektif yaitu Tante, dan faktor kontekstual berupa kedekatan dengan alam ditemukan turut memengaruhi dinamika tersebut. Pembahasan menunjukkan bahwa krisis eksistensial subjek sejalan dengan konsep existential vacuum, spiritual emergency, dan proses individuasi, sementara transformasi spiritualnya mencerminkan pergeseran dari religiusitas eksoterik menuju esoterik. Temuan ini memberikan kontribusi bagi pengembangan psikologi transpersonal di Indonesia dan rujukan bagi konselor dalam mendampingi individu dari keluarga disfungsional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa krisis psikologis dapat menjadi jalan menuju pertumbuhan psikospiritual dan resiliensi diri yang autentik.