Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

PSIKOEDUKASI PENANGANAN DAN PERAWATAN ORANG DENGAN SKIZOFRENIA (ODS) MELALUI GERAKAN “GUYUB SARENG NGINCENG WONG GENDENG” Sirril Wafa; Tinon Citraning Harisuci
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 11 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i11.3927-3936

Abstract

Psikoedukasi penanganan dan perawatan terhadap orang dengan skizofrenia (ODS) selayaknya dilakukan pada skala makro dengan melibatkan berbagai pihak sebab skizofrenia umumnya terjadi akibat adanya tekanan dari lingkungan sosial yang hebat. Psikoedukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman literasi kesehatan mental serta partisipasi aktif komunitas dalam pemberian pertolongan pertama dan perawatan terhadap ODS, penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental one group pretest dan posttest dengan melibatkan 16 partisipan selaku kader kesehatan jiwa dari Desa  X, partisipan terdiri dari tiga unsur, yaitu keluarga, caregiver pasien skizofrenia, lingkungan sekitar dan stakeholder dan tokoh masyarakat. Prosedur pelaksanaan dibagi ke dalam tiga sesi, sesi pertama penyampaian materi seputar kesehatan jiwa, gejala, penyebab dan cara pemberian pertolongan dan perawatan, sesi kedua psikoedukasi melalui pembagian leaflet kepada anggota komunitas, sesi ketiga follow-up implementasi program oleh komunitas. Hasil menunjukkan skor posttest lebih tinggi dari skor pretest, hal ini menandakan adanya peningkatan pemahaman setelah pemberian psikoedukasi dengan skor signifikansi 0.00 < 0.05. Setelah adanya psikoedukasi, komunitas tergerak untuk melakukan pengawasan terhadap ODS melalui gerakan “guyub rukun nginceng wong gendeng” adanya gerakan ini mulai meningkatkan kesadaran komunitas akan pentingnya pemberian pertolongan pertama pada OSD melalui cara memeriksakan ke rumah sakit dan membawa ke pusat rehabilitasi, sedangkan terhadap ODS yang telah pulang dari pusat rehabilitasi respon komunitas mulai menerima dan menyambut kepulangan di tengah masyarakat. Kata Kunci: psikoedukasi, penanganan dan perawatan, orang dengan skizofrenia
Efektivitas psychological first aid terhadap pengelolaan resiliensi narapidana wanita yang mempunyai balita di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II-A Semarang Syarifah Aulia; Zahwa Aulia Alfatika; Hilmi Adhim Farassadani; Faricha Annisa; Tinon Citraning Harisuci
PROMOTIF: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): PROMOTIF: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um075v4i22024p107-121

Abstract

Dalam menjalani pembinaan di lembaga pemasyarakatan, narapidana wanita yang mempunyai balita memiliki beberapa kendala psikologis. Untuk menghadapi kendala tersebut dibutuhkan adanya resiliensi atau kemampuan bertahan dan survive. Resiliensi yang baik dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang paling berpengaruh ialah support system. Maka dari itu diperlukan dukungan atau pertolongan pertama yang diterapkan oleh orang disekitar narapidana tersebut. Dukungan tersebut ialah psychological first aid. Pengabdian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan Psychological First Aid (PFA) terhadap pengelolaan resiliensi narapidana wanita yang mempunyai balita di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas II-A Semarang. Pengabdian ini menggunakan pendekatan kuasi-eksperimental dengan desain pre-test dan post-test dengan kelompok kontrol. Subjek pengabdian terdiri dari 15 narapidana wanita yang mempunyai balita yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Pengukuran resiliensi dilakukan sebelum dan setelah intervensi menggunakan instrumen valid dan reliabel. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan resiliensi pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol (p < 0,001) dan nilai t=12,4. Temuan ini menunjukkan bahwa program Psychological First Aid yang dikembangkan efektif dalam mengelola resiliensi dan meningkatkan kemampuan narapidana dalam menghadapi stres dan trauma. Program ini diharapkan dapat menjadi model intervensi yang efektif seperti konseling peer group untuk mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan narapidana wanita.
Authentic Happiness pada Mahasiswa Penerima Beasiswa Chaerani Astri Hasanah; Tinon Citraning Harisuci
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Juni–Juli 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i2.918

Abstract

Mahasiswa penerima beasiswa seringkali dihadapkan pada beban akademik dan non-akademik yang lebih berat dibandingkan mahasiswa reguler. Studi fenomenologi ini mengeksplorasi empat mahasiswa penerima beasiswa mengalami kebahagiaan autentik. Dalam penelitian ini, penulis mengkaji pengalaman authentic happiness yang menurut Seligman terdiri atas positive emotion, engagement, dan meaning pada empat mahasiswa penerima beasiswa aktif yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi non-partisipatif, lalu dianalisis secara deskriptif-interpretatif untuk mengungkapkan makna subjektif kebahagiaan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan finansial tidak hanya mereduksi stres, tetapi juga mendorong kepuasan, rasa syukur, dan optimisme serta keterlibatan mendalam (flow) dalam aktivitas akademik, non-akademik, dan sosial, serta tujuan hidup yang berakar dari kontribusi mereka.
PSIKOEDUKASI PENANGANAN DAN PERAWATAN ORANG DENGAN SKIZOFRENIA (ODS) MELALUI GERAKAN “GUYUB SARENG NGINCENG WONG GENDENG” Sirril Wafa; Tinon Citraning Harisuci
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 11 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i11.3927-3936

Abstract

Psikoedukasi penanganan dan perawatan terhadap orang dengan skizofrenia (ODS) selayaknya dilakukan pada skala makro dengan melibatkan berbagai pihak sebab skizofrenia umumnya terjadi akibat adanya tekanan dari lingkungan sosial yang hebat. Psikoedukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman literasi kesehatan mental serta partisipasi aktif komunitas dalam pemberian pertolongan pertama dan perawatan terhadap ODS, penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental one group pretest dan posttest dengan melibatkan 16 partisipan selaku kader kesehatan jiwa dari Desa  X, partisipan terdiri dari tiga unsur, yaitu keluarga, caregiver pasien skizofrenia, lingkungan sekitar dan stakeholder dan tokoh masyarakat. Prosedur pelaksanaan dibagi ke dalam tiga sesi, sesi pertama penyampaian materi seputar kesehatan jiwa, gejala, penyebab dan cara pemberian pertolongan dan perawatan, sesi kedua psikoedukasi melalui pembagian leaflet kepada anggota komunitas, sesi ketiga follow-up implementasi program oleh komunitas. Hasil menunjukkan skor posttest lebih tinggi dari skor pretest, hal ini menandakan adanya peningkatan pemahaman setelah pemberian psikoedukasi dengan skor signifikansi 0.00 0.05. Setelah adanya psikoedukasi, komunitas tergerak untuk melakukan pengawasan terhadap ODS melalui gerakan “guyub rukun nginceng wong gendeng” adanya gerakan ini mulai meningkatkan kesadaran komunitas akan pentingnya pemberian pertolongan pertama pada OSD melalui cara memeriksakan ke rumah sakit dan membawa ke pusat rehabilitasi, sedangkan terhadap ODS yang telah pulang dari pusat rehabilitasi respon komunitas mulai menerima dan menyambut kepulangan di tengah masyarakat. Kata Kunci: psikoedukasi, penanganan dan perawatan, orang dengan skizofrenia
Adolescent autonomy: Role of father’s involvement and family functioning Arcivid Chorynia Ruby; Prapti Madyo Ratri; Fajar Kawuryan; Kholifah Umi Sholihah; Adnan Fadkhurosi; Tinon Citraning Harisuci
Jurnal Psikologi Tabularasa Vol. 20 No. 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : University of Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/jpt.v20i2.15734

Abstract

Adolescence is a transitional period marked by increasing self‑direction. This study examined whether father involvement and family functioning are associated with adolescent autonomy. Using multistage cluster sampling across several districts/cities in Central Java, Indonesia, we analysed survey data from 929 adolescents aged 12–19 years. Participants completed validated scales of adolescent autonomy, family functioning, and father involvement. Statistical analysis was conducted using the bootstrapping technique to test the strength of the relationship and its effects. The results indicated that both family functioning and father involvement had a significant positive relationship with adolescent autonomy. Increased family functioning and active father involvement were associated with higher levels of autonomy in adolescents. Findings suggest that adolescents tend to report higher autonomy in supportive family climates with engaged fathers, informing family‑based strategies to strengthen self‑regulation and decision‑making. These insights provide practical implications for strengthening adolescent psychosocial development through family-based interventions.
The Relationship Between Parental Role And Peer Social Support With Adolescent Alcohol Consumption Behavior Muhammad Maula Rizka; Tinon Citraning Harisuci
Journal of Research in Social Science and Humanities Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jrssh.v4i2.208

Abstract

The role of parents and social support of peers can potentially cause an adolescent to have a high tendency of alcohol consumption behavior that causes indifferent behavior to the environment, loss of interest in the surrounding environment, irritability or anger, and lack of concern for the scope or social. The purpose of this study was to examine the relationship between parental role and peer social support with adolescent alcohol consumption behavior. This study uses quantitative research methods. The sampling technique used was non probability sampling with purposive sampling method. The number of participants was 173 respondents. The results showed that the pearson correlation value was 0.932 with sig. = 0,000 (? 0,05). This means that there is a highly significant relationship between parental role and peer social support with alcohol consumption behavior. The implication of this study is that there needs to be an intervention on parental role and peer social support in adolescents so that the level of alcohol consumption becomes low.
Help-Seeking Behavior Caregiver Pasien Dengan Gejala Psikotik di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus Dea Nabila Sasana; Dinda Dwi Sonia Putri; Tinon Citraning Harisuci
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/sw7dx567

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman, motif, hambatan dan harapan caregiver pasien dengan gejala psikotik dalam konteks perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior). Gangguan psikotik, ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas melalui delusi atau halusinasi yang mempengaruhi sejumlah besar individu, sementara caregiver mengalami konsekuensi psikologis seperti kecemasan dan stigma sosial. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, penelitian ini melibatkan wawancara semi-struktur dengan caregiver pasien rawat jalan poli psikiatri di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus dengan analisis data berpedoman pada tiga aspek help-seeking behavior Rickwood & Braithwaite (1994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku mencari bantuan dangat dipengaruhi oleh kesadaran akan kondisi kritis, namun secara signifikan terhambat oleh stigma sosial dan ketakutan akan pergunjingan. Pola pemilihan sumber bantuan menunjukkan ketergantungan kuat pada keluarga inti untuk dukungan informal dan kepercayaan rasional pada layanan psikiater profesional untuk bantuan formal. Meskipun demikian, pendorong fundamental yang mengatasi hambatan adalah motivasi kasih sayang kepada orang terkasih. Penelitian ini menyarankan agar layanan kesehatan mental mengembangkan program dukungan psikologis yang menjamin tingkat kerahasiaan tinggi untuk mengatasi beban stigma.
Strategi Coping Pada Remaja yang Hamil Diluar Nikah Dalam Menjalani Pernikahan Dini dan Berkeluarga (Married By Accident) Happy Ayu; Anandha Sherly Erlina; Tinon Citraning Harisuci
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/aedkmr97

Abstract

Kehamilan di luar nikah pada remaja sering berujung pada pernikahan dini (married by accident) dan menimbulkan berbagai tekanan psikologis, sosial, serta tuntutan penyesuaian diri. Penelitian ini dilakukan untuk memahami strategi coping yang digunakan remaja perempuan dalam menghadapi pernikahan dini akibat kehamilan pranikah. Kajian pustaka merujuk pada teori Lazarus dan Folkman yang membagi coping menjadi problem focused coping dan emotion focused coping. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Tiga remaja perempuan berusia di bawah 19 tahun dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi, kemudian dianalisis dengan mengkoding data berdasarkan kategori coping Lazarus dan Folkman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek menggunakan berbagai strategi coping, antara lain seeking social support, planful problem solving, accepting responsibility, positive reappraisal, distancing, serta pada beberapa subjek muncul self-controlling, escape avoidance, dan confrontative coping. Strategi yang paling dominan adalah seeking social support karena keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan terkait pernikahan dini. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan kemampuan regulasi emosi berkontribusi penting dalam proses adaptasi remaja yang menjalani married by accident. Penelitian selanjutnya disarankan menggali aspek psikologis dan dinamika keluarga secara lebih mendalam.
Dance Movement Therapy Osho Kundalini Sebagai Media Untuk Menurunkan Gejala Kecemasan, Stres, dan Depresi Pada Penyandang Disabilitas Mental Tinon Citraning Harisuci; Vikri Islah Khafidz; Faricha Annisa; Fito Uli Huda
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v9i1.5273

Abstract

Individuals with mental disabilities are vulnerable to anxiety, stress, and depression that affect emotional and social functioning. This study aimed to evaluate the effect of Dance Movement Therapy (DMT) accompanied by Osho Kundalini music on reducing symptoms of anxiety, stress, and depression. The study employed a pre-experimental one-group pretest–posttest design involving 15 participants residing at Muria Jaya Social Service Center. Data were collected using the Depression Anxiety Stress Scale (DASS), observation, and interviews conducted before and after the intervention. The intervention integrated expressive movement, rhythmic stimulation, relaxation, and silent meditation to facilitate emotional release and enhance body awareness and psychological regulation. Statistical analysis indicated reductions in anxiety (t = 24.29), stress (t = 21.66), and depression (t = 18.51) scores after the intervention, with statistically significant differences and effect sizes indicating practical intervention impact. Although the research design limits causal inference due to the absence of a control group, the findings contribute empirical evidence regarding the potential of Osho Kundalini-based DMT as an applicable psychosocial intervention for individuals with mental disabilities in social care settings.