This study aims to uncover the denotative, connotative, and mythical meanings contained in the mythology of the Bonyia Kas Bird in Banggai Regency through Roland Barthes' semiotic study. This study uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were obtained through in-depth interviews with community leaders and informants who understand the mythology of the Bonyia Kas Bird, and supported by documentation of oral stories that have developed in the community. The data analysis technique was carried out by classifying the data into three stages of meaning, namely denotation, connotation, and myth in accordance with Roland Barthes' semiotic theory. The results of the study show that at the denotative level, the Bonyia Kas Bird is understood as a bird figure that has physical characteristics resembling an eagle and is known through its sound as a certain marker. At the connotative level, the Bonyia Kas Bird is interpreted as a symbol of warning, caution, and a moral message for the community in carrying out daily activities. Meanwhile, at the mythical level, the Bonyia Kas Bird functions as a cultural sign system that represents the relationship between humans, nature, and God's power, and is part of the identity and local wisdom of the Banggai community. This research confirms that the mythology of the Bonyia Kas Bird serves not only as a traditional story but also as a means of transmitting social and cultural values that are still believed today. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna denotatif, konotatif, dan mitos yang terkandung dalam mitologi Burung Bonyia Kas di Kabupaten Banggai melalui kajian semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan informan yang memahami mitologi Burung Bonyia Kas, serta didukung oleh dokumentasi cerita lisan yang berkembang di masyarakat. Teknik analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data ke dalam tiga tahapan pemaknaan, yaitu denotasi, konotasi, dan mitos sesuai dengan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tataran denotatif, Burung Bonyia Kas dipahami sebagai sosok burung yang memiliki ciri fisik menyerupai burung elang dan dikenal melalui bunyinya sebagai penanda tertentu. Pada tataran konotatif, Burung Bonyia Kas dimaknai sebagai simbol peringatan, kehati-hatian, serta pesan moral bagi masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sementara itu, pada tataran mitos, Burung Bonyia Kas berfungsi sebagai sistem tanda budaya yang merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan kekuasaan Tuhan, serta menjadi bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Banggai. Penelitian ini menegaskan bahwa mitologi Burung Bonyia Kas tidak hanya berfungsi sebagai cerita tradisional, tetapi juga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai sosial dan budaya yang masih diyakini hingga saat ini.