Muhammad Anwar Djaelani
Program Studi Biologi, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Jacob Rais Tembalang, Semarang, 50275|Universitas Diponegoro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bobot Organ Visceral Pada Puyuh Betina (Coturnix coturnix japonica) Setelah Pemberian Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera Lam.) Sebagai Aditif Pakan Fadlan Wakhid Khifdillah; Sunarno Sunarno; Muhammad Anwar Djaelani; Kasiyati Kasiyati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.153-159

Abstract

Pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter sebagai aditif pakan pada ternak memunculkan kebutuhan terhadap alternatif antibiotik yang lebih aman dan mudah didapat. Salah satu alternatif yang menjanjikan adalah kelor (Moringa oleifera Lam.). Daun kelor memiliki potensi sebagai antibiotik alami yang mampu mendukung kesehatan saluran pencernaan serta fungsi organ visceral. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis kinerja organ visceral setelah diberikan aditif pakan tepung daun kelor dengan berbagai konsentrasi. Sebanyak 30 ekor puyuh betina dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan yang menerima imbuhan tepung daun kelor sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10% dalam pakannya, masing-masing dengan enam ulangan. Puyuh diakhiri hidupnya pada umur 106 hari untuk kemudian dilakukan isolasi dan penimbangan terhadap organ visceralnya yang meliputi bobot proventrikulus, ventrikulus, intestinum, hepar, pankreas, dan jantung. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dengan taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa suplementasi tepung daun kelor secara signifikan meningkatkan bobot pankreas, namun tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada organ visceral lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan tepung daun kelor sebagai aditif pakan memberikan dampak positif terhadap peningkatan bobot organ pankreas, dan dapat mempertahankan bobot proventrikulus, ventrikulus, intestinum, hepar, dan jantung.  The ban on the use of antibiotic growth promoter as feed additives in livestock has created a need for safer and more accessible antibiotic alternatives. One promising alternative is moringa (Moringa oleifera Lam.). Moringa leaves have the potential to serve as natural antibiotics that support digestive health and the function of visceral organs. This study aimed to analyze the performance of visceral organs following the administration of moringa leaf powder as a feed additive at various concentrations. Thirty female quails were divided into five treatment groups that received 0%, 2.5%, 5%, 7.5%, and 10% moringa leaf powder in their feed, with six replications per group. The quails were culled at 106 days, and their visceral organs including proventriculus, ventriculus, intestines, liver, pancreas, and heart were isolated and weighed. Data were analyzed using ANOVA at a 5% significance level. The results showed that moringa leaf powder supplementation significantly increased pancreatic weight, but did not produce significant differences in the weight of the other visceral organs. It can be concluded that the use of moringa leaf powder as a feed additive has a positive impact on increasing pancreatic weight and helps maintain the weight of the proventriculus, ventriculus, intestines, liver, and heart.
Analisis Gambaran Sel Glomerulus Rattus norvegicus Melalui Proses Pencucian Setelah Fiksasi dengan NBF 10%, Bouin, dan Etanol 50% Selama Satu Minggu Wulandari Putri Maharani; Muhammad Anwar Djaelani; Silvana Tana; Siti Muflichatun Mardiati
Buletin Anatomi dan Fisiologi Volume 10, Nomor 2, Tahun 2025
Publisher : Departemen Biologi Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/baf.10.2.2025.112-123

Abstract

Fiksasi merupakan proses kimia yang menjadi tahap penting dalam pembuatan preparat jaringan hewan. Larutan fiksatif yang umum digunakan yaitu NBF 10%, bouin, dan etanol 50%. Organ yang digunakan pada penelitian ini adalah ren yang merupakan jaringan lunak. Penelitian ini bertujuan menganalisis gambaran glomerulus melalui proses pencucian setelah difiksasi dengan menggunakan  NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Ren difiksasi dengan NBF 10%, bouin, dan etanol 50% selama satu minggu. Hasil menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada ruang kapsula bowman, ukuran sel glomerulus dan ukuran inti sel glomerulus. Tampak kerusakan yang signifikan terhadap keutuhan glomerulus, bentuk sel glomerulus, bentuk inti sel glomerulus, warna sel glomerulus, dan warna inti sel glomerulus. Pada penelitian ini  dapat disimpulkan bahwa tahap pencucian setelah fiksasi dapat meminimalisir kerusakan preparat yang difiksasi selama satu minggu dengan NBF 10%. Fixation is a chemical process that is an important stage in the preparation of animal tissue preparations. Commonly used fixative solutions are 10% NBF, bouin, and 50% ethanol. The organ used in this study was the kidney, which is a soft tissue. This study aims to analyze the glomerular image through the washing process after being fixed using 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The kidney was fixed with 10% NBF, bouin, and 50% ethanol for one week. The results showed significant differences (P<0.05) in bowman's capsule space, the size of the glomerular cells and the size of the glomerular cell nucleus.There was significant damage to the integrity of the glomerulus, the shape of the glomerular cells, the shape of the glomerular cell nucleus, the color of the glomerular cells, and the color of the glomerular cell nucleus. In this study, it can be concluded that the washing stage after fixation can minimize damage to preparations fixed for one week with 10% NBF.