Latar Belakang: Penggunaan obat tradisional tanpa pengetahuan yang memadai berisiko menimbulkan efek merugikan, sementara Organisasi Kesehatan Dunia mendorong integrasi pengobatan tradisional berbasis bukti ke dalam sistem kesehatan. Tujuan: Menganalisis hubungan faktor sosiodemografi terhadap tingkat pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tradisional pada masyarakat Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang melibatkan 100 responden yang dipilih melalui purposive sampling di Desa Dalung dan Desa Kerobokan pada Maret sampai Mei 2023. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat serta bivariat dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Responden didominasi kelompok usia 18 sampai 25 tahun dan 46 sampai 55 tahun (masing masing 22%), perempuan (61%), berpendidikan menengah (53%), pegawai swasta (37%), dan berpendapatan di bawah Rp1.500.000 (37%). Tingkat pengetahuan tergolong baik pada 53% responden dan perilaku penggunaan tergolong baik pada 55% responden. Usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, dan pendapatan berhubungan signifikan dengan pengetahuan (p=0,000; koefisien korelasi 0,538 sampai 0,634) dan perilaku (p=0,000; koefisien korelasi 0,596 sampai 0,691), sedangkan jenis kelamin tidak berhubungan signifikan dengan keduanya (p>0,05). Simpulan: Faktor sosiodemografi, kecuali jenis kelamin, berhubungan signifikan dengan pengetahuan dan perilaku penggunaan obat tradisional, sehingga edukasi kesehatan perlu disasar berdasarkan karakteristik demografis masyarakat.