This Author published in this journals
All Journal Widya Kesehatan
Putu Arlin Widya Apriliani
Universitas Bali Internasional

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengetahuan dan perilaku DAGUSIBU obat pada masyarakat pedesaan Bali: Studi potong lintang: Knowledge and behavior regarding DAGUSIBU medicines among the rural population of Bali: A cross-sectional study Putu Arlin Widya Apriliani; Ni Putu Wintariani; I Gusti Ngurah Mayun; Dhiancinantyan Windydaca Brata Putri
Widya Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2026): Widya Kesehatan
Publisher : Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/36w6fz82

Abstract

Latar Belakang: Swamedikasi berkembang luas di Indonesia, termasuk Bali, namun pengelolaan obat yang keliru berisiko menimbulkan masalah kesehatan. Program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, Buang) dirancang mendorong pengelolaan obat mandiri yang aman, namun keberhasilannya bergantung pada pengetahuan dan perilaku masyarakat yang masih beragam antarwilayah. Tujuan: Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan terhadap perilaku masyarakat serta hubungan karakteristik sosiodemografi terhadap tingkat pengetahuan mengenai DAGUSIBU obat. Metode: Desain potong lintang kuantitatif dilaksanakan pada 90 responden usia 18 sampai 60 tahun di Banjar Saraseda, Desa Tampaksiring, Gianyar, Bali, periode Maret sampai Mei 2023, dipilih melalui purposive sampling menggunakan kuesioner terstruktur. Data dianalisis dengan uji korelasi Rank Spearman. Hasil: Sebagian besar responden berpengetahuan baik (46%) dan berperilaku baik (46%) terkait DAGUSIBU obat. Terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dan perilaku (p=0,003; r=0,309). Usia, pendidikan, dan pekerjaan berhubungan signifikan dengan pengetahuan (p=0,000; r berturut-turut 0,331; 0,445; 0,301), sedangkan jenis kelamin tidak berhubungan signifikan (p=0,152; r=-0,096). Simpulan: Pengetahuan berhubungan searah dengan perilaku pengelolaan obat mandiri, sementara usia, pendidikan, dan pekerjaan berperan membentuk tingkat pengetahuan masyarakat, sehingga edukasi DAGUSIBU perlu diarahkan berbasis karakteristik demografi tersebut.